Antara Marwah PWI dan Merajut Perbedaan

- Penulis

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TANTANGAN dunia pers hari ini tidak main-main. Di tengah gempuran teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), ruang redaksi dituntut bergerak secepat kilat. Tapi, di balik kecepatan itu, ada harga mahal yang dipertaruhkan: kepercayaan publik.

Realitas inilah yang mendasari pandangan Tantan Sulthon B, M.Sos., calon Ketua PWI Jawa Barat periode 2026-2031.

Baginya, organisasi bukan sekadar urusan administrasi atau papan nama belaka. Lebih dari itu, ia adalah rumah bersama yang menentukan ke mana arah kemudi pers daerah akan melangkah saat badai disrupsi melanda.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

*Menjinakkan AI Tanpa Kehilangan Hati Nurani*

Dunia media saat ini berubah sangat radikal. Cara berita diproduksi dan dikonsumsi masyarakat jauh berbeda dibanding sedekade lalu.

Informasi saling berkejaran dalam hitungan detik, imbasnya, akurasi kerap kali dikorbankan demi kecepatan.

Menariknya, dalam situasi penuh tekanan ini, Tantan mengingatkan kita semua pada tesis klasik Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.

Dia menegaskan, esensi jurnalisme tetap sama sampai kapan pun, yaitu menyajikan informasi valid agar masyarakat tetap merdeka dan mampu mengatur dirinya sendiri.

Oleh karena itu, organisasi wartawan di Jabar punya pekerjaan rumah yang besar. Lembaga ini harus mampu menyulap diri menjadi laboratorium belajar yang dinamis.

Wartawan didorong untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi AI. Namun ingat, adopsi teknologi tidak boleh sampai menggerus jati diri wartawan sebagai perawat kebenaran.

Teknologi hanyalah alat bantu, sementara hati nurani dan komitmen pada fakta tetap menjadi ruh utama yang tidak bisa digantikan oleh mesin pintar mana pun.

*Ujian Kedewasaan dan Rumah yang Ramah Lintas Generasi*

Sebuah bangunan yang besar tentu tidak luput dari terpaan angin kencang. Begitu pula dengan dinamika internal yang belakangan ini mewarnai perjalanan *PWI Jawa Barat*.

Silang pendapat dan perbedaan pilihan di internal organisasi sebenarnya adalah hal yang sangat lumrah. Padahal, gesekan seperti ini kerap kali memicu polarisasi jika tidak dikelola dengan bijak.

Tantan memandang, kedewasaan sebuah wadah profesi justru diuji dari cara mereka mengelola perbedaan tersebut.

Tembok organisasi itu didirikan untuk melindungi dan menguatkan semua anggotanya, bukan malah membangun sekat-sekat eksklusif yang memisahkan.

Solusinya jelas: kembali ke meja musyawarah dengan budaya saling menghormati. Organisasi yang kokoh bukan berarti bersih dari perbedaan, melainkan yang piawai merajut perbedaan itu menjadi energi kolektif yang dahsyat.

Ke depan, pintu organisasi wartawan di Jabar harus terbuka lebar secara inklusif. Wartawan muda yang minim pengalaman harus dirangkul dan diberi ruang aman untuk bertumbuh, tanpa sedikit pun mengesampingkan jasa dan dedikasi para senior yang telah bertahun-tahun merawat fondasi profesi ini.

*Merawat Cahaya Independensi Demi Kepercayaan Publik*

Pada akhirnya, marwah sebuah organisasi pers tidak ditentukan oleh berapa tua usianya atau seberapa megah gedungnya. Martabat itu lahir dari komitmen anggotanya dalam menjunjung tinggi kode etik, kejujuran, dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat luas.

Reputasi di mata publik tidak bisa dibeli dengan pencitraan; ia harus diperjuangkan lewat konsistensi produk jurnalistik yang dihasilkan setiap hari.

Membangun rumah pers yang teduh dan mandiri jelas tidak bisa mengandalkan satu atau dua orang saja.

Dibutuhkan kolaborasi nyata dari banyak tangan yang memiliki frekuensi dan niat yang sama. Tugas generasi hari ini bukan cuma numpang tinggal di dalam rumah besar bernama PWI Jawa Barat, melainkan memastikan lentera independensi di dalamnya tetap menyala terang.

Selama komitmen bersama ini terjaga dengan baik, harapan lahirnya jurnalisme yang sehat, bermartabat, dan berpihak pada kepentingan publik akan menemukan jalannya.***

Tantan Sulthon Bukhawan M.Sos.,

Wartawan Senior, Calon Ketua Umum PWI Jabar

Berita Terkait

HPN 2027 Lampung, PWI Half Marathon 2026 Siapkan Hadiah Ratusan Juta
Ikut Jejak Sahwan, Ari Raih Virtual Give Tertinggi, Tazir Tersenggol Top 12
Saung Kosasih, Ruang Keluarga Besar Bekangdam
SDN 069 Cipamokolan Derwati Juara Umum Pramuka Kwarran, Ini Ungkapan Para ‘Champions’
11 Tim Putra dan 5 Putri Perebutkan Juara Nasional di Axis Nation Cup 2026
Cetak “Hattrick” Komisi V Dukung PWI Jabar Kembali Rebut Juara di Porwanas 2027
Dibantu Crew, Penumpang KA Yogyakarta–Cipendeuy Melahirkan dengan Selamat
Warga Kampung Datarkadak Tasikmalaya Kini Tak Lagi Kesulitan Air Bersih

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 16:39 WIB

HPN 2027 Lampung, PWI Half Marathon 2026 Siapkan Hadiah Ratusan Juta

Senin, 2 November 2026 - 18:38 WIB

Ikut Jejak Sahwan, Ari Raih Virtual Give Tertinggi, Tazir Tersenggol Top 12

Minggu, 1 November 2026 - 20:31 WIB

Saung Kosasih, Ruang Keluarga Besar Bekangdam

Minggu, 1 November 2026 - 15:30 WIB

SDN 069 Cipamokolan Derwati Juara Umum Pramuka Kwarran, Ini Ungkapan Para ‘Champions’

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:43 WIB

11 Tim Putra dan 5 Putri Perebutkan Juara Nasional di Axis Nation Cup 2026

Berita Terbaru

Pangdam III/Slw Mayjen TNI Kosasih berpose bersama Kabakengdam dan prajurit usai meresmikan Saung Kosasih. PJ/Dok

FEATURED

Saung Kosasih, Ruang Keluarga Besar Bekangdam

Minggu, 1 Nov 2026 - 20:31 WIB