BANDUNG, PelitaJabar – Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memasukkan Tradisi Pencak Silat sebagai “Warisan Budaya Tak benda”.
Pencaksilat bukan sekedar olahraga beladiri khas Indonesia, tapi warisan budaya luhur yang mengandung falsafah, spiritualitas, dan kesenian.
“Karena itulah, penetapan pencak silat sebagai warisan budaya tak benda ini adalah sebuah penghormatan bagi tradisi dan kebudayaan kita yang masih berkembang serta dipertahankan dari generasi ke generasi,” papar Wakil Ketua DPRD Kota Bandung Edwin Senjaya, Selasa 16 Desember 2025.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai orang yang terlibat langsung dalam proses pengajuan pencak silat menjadi warisan budaya dunia tak benda, dia diberikan penghargaan pada acara Anugerah Insan Pencak Silat dari Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Minggu, 14 Desember 2025.
“KPSTI juga meminta saya menjadi narasumber dalam sarasehan yang diikuti oleh perwakilan dari berbagai perguruan dan aliran pencak silat termasuk para guru besar-guru besar,” ujar Edwin.
Seperti diketahui, UNESCO menetapkan pencak silat sebagai salah satu warisan budaya tak benda dari Indonesia pada 2019.
“Setelah ditetapkan bukan berarti selesai, karena UNESCO akan terus melakukan evaluasi per empat tahun sekali apakah pencak silat ini dirawat atau tidak, dilestarikan atau tidak. Kalau tidak salah ada 16 item ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda asal Indonesia itu pun juga sama, dievaluasi juga,” bebernya.
Sebagai Ketua Umum Masyarakat Pencak Silat Indonesia (MASPI), dia meminta masyarakat menjaga dan merawat dengan memasukkan pencaksilat sebagai muatan lokal di dunia pendidikan.
“Penghargaan ini menjadi sebuah amanah yang harus saya pertanggungjawabkan, supaya ke depan saya tetap eksis, aktif untuk melestarikan dan mengangkat nama besar pencak silat, baik di kancah nasional maupun internasional,” paparnya.
Tantangan kedepan, masih minimnya tenaga pelatih pencak silat untuk mengajar di lembaga pendidikan dasar dan menengah.
“Kan perlu well educated, komunikasi yang bagus. Jadi saya kira perlu juga ada program pelatihan untuk para pelatih, TOT-lah kalau bahasa kita,” pungkasnya. ***








