MEMPELAJARI ilmu beladiri harus konsen, serius dan full. Tidak boleh setengah-setengah, apalagi asal-asalan.
Prinsip itu menjadi pegangan bagi seorang Budiono yang saat ini tengah menggeluti olahraga beladiri asal “negeri ginseng” Korea Selatan yaitu Taekwondo.
“Untuk olahraga taekwondo, saya tidak pernah setengah-setengah. Karena yang namanya hobi dilakukan setengah-setengah itu gak enak. Harus tuntas. Karena saya sangat mencintai taekwondo,” ucap Budiono, kepada PJ usai mengikuti Penyegaran Wasit Nasional (PWN) 4 hingga 6 Oktober 2026 di Maja House Kabuparen Bandung Barat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mulai belajar taekwondo sejak 1989 di Unit Institut Taekwondo Nusantara (ITN) , — saat ini Budiono benar-benar 100 persen merasakan dalam darahnya mengalir deras jurus-jurus taekwondo.
Jangan tanya apa itu momtong jireugi (pukulan cepat). Atau ap chagi, dollyo chagi dan yeop chagi. Semua tendangan berbahasa Korea itu pasti ada dalam pikiran seorang Budiono.
Kalau gerakan menagkis apa Kang Budiono?
“Ada Kang. Dalam beladiri Korea disebut arae makgi atau momtong makgi. Yaitu gerakan bertahan untuk menangkis serangan lawan. Itu Kang,” sebut Budiono lantang.
Taekwondo adalah seni bela diri modern asal Korea Selatan yang berfokus pada kecepatan, kelenturan, dan teknik tendangan tinggi.
Pengertiannya Tae adalah Menendang atau menggunakan kaki. Kwon adalah tinju atau menggunakan tangan. Sedangkan Do bermakna Senin atau metode pembentukan karakter.
Semua makna yang terkandung dalam pengertian Taekwondo sepertinya terpatri dalam diri pria kelahiran 19 Februari 1976 ini.
Saat ini Budiono yang pernah mencicipi Kejuaraan antar Unit dan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Antar Mahasiswa ini telah memegang sabuk DAN V KUKKIWON.
Saat ini dirinya aktif melatih di beberapa unit taekwondo. Sebut saja di unit Pegasus Bandung, Phoenix Bandung , Andromeda Bandung, Labschool UPI , URBAN TKD , SMPN 50 Bandung , SDN 172 Andir Kidul , SDN 078 Bina Harapan , SMAN 15 Bandung SD Girimekar dan SD Cinangka.
“Cuma ingin berbagi ilmu dengan adik-adik yang menggemari taekwondo. Berharap dari pembinaan ini mucul atlet berbakat. Saya ingin ilmu yang saya berikan bermanfaat dunia dan akhirat. Hanya itu,” katanya merendah.
Bagaimana dengan perwasitan?
“Oh ya, saya ikut di perwasitan tahun 1999. Mulai sebagai wasit daerah. Tadinya hanya coba-coba. Tapi lama-lama enak juga. Jadi betah dan menekuninya serius. Alhamdulillah tahun 2011 saya berhasil dapat lisensi sebagai wasit Nasional. Wasyukurillah,” paparnya.
Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 4 hingga 6 Oktober 2026 , Budiono mengikuti Penyegaran Wasit Nasional (PWN) di Maja Kabupaten House Bandung Barat.
“Manfaat PWN terasa sekali bagi saya dan teman-teman wasit lainnya. Tidak hanya sekedar perpanjangan lisensi Wasit Nasional. Lebih dari itu PWN juga sebagai Update peraturan pertandingan terbaru yang diterapkan World TAEKWONDO (WT). Intinya meningkatkan kualitas wasit,” bebernya.
Pada kesempatan itu dirinya menyampaikan terimakasih kepada Ketua Umum Pengprov TI Jawa Barat Divie, SH.MH yang telah menjalankan program PB.TI ini dengan sukses dan lancar.
“Atas nama pribadi dan korp wasit kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Pak Divie Ketua Pengprov TI Jawa Barat yang sukses melaksanakan PWN ini. Walau pun ini adalah program PB TI. Tapi pak Divie dan jajarannya sukses melaksanakan PWN,” kata Budiono yang ingin menjadi wasit Internasional ini.
Ada hal menarik di PWN lalu.
“Pelaksanaan kali ini per wilayah sangat membantu rekan-rekan wasit. Karena sebelumnya dilaksanakan secara Nasional bersamaan. Dan tempat tidak selalu di Jawa Barat karena berpindah-pindah. Sehingga anggaran dan waktu lebih besar apabila diluar Jawa Barat,” pungkasnya. Joelkarnain








