SATU fakta membuka mata kita semua terhenyak ketika mendengar salah satu kecamatan di Kota Bandung, mendapat julukan tertinggi di Indonesia kasus judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol).
Laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat, terdapat 80.549 pemain, dengan jumlah transaksi deposit mencapai Rp 341,7 miliar. Adapun di Kecamatan Bojongloa Kaler ada 5.090 pemain, dengan nilai deposit mencapai Rp 22,3 miliar.
Sementara data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung, semester II tahun 2019 jumlah penduduk Bojongloa Kaler mencapai 123.467 jiwa. Tentu saja jumlah tersebut kini terus bertambah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berbagai program seperti Kampung Bebas Rentenir yang digaungkan Pemkot Bandung, seolah tak menyentuh masyarakat bawah di wilayah tersebut. Hanya fokus di pemutusan dengan bank emok alias rentenir saja, sementara korban judol dan pinjol terus berjatuhan.
Lalu, bagaimana reaksi Pemerintah Kota Bandung?
Wali Kota Bandung sendiri, Muhammad Farhan merasa prihatin setelah wilayah Bojongloa Kaler masuk dalam daftar daerah dengan tingkat kasus judol tertinggi di Indonesia.
“Saya sangat prihatin. Minggu ini Bojongloa Kaler menjadi perhatian khusus pemerintah. Camatnya pasti saya panggil karena wilayah itu sedang menjadi perhatian,” beber Farhan usai memimpin Apel Mulai Bekerja di Plaza Balai Kota Bandung, Senin 20 Juli 2026.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data dan hasil pemetaan, mayoritas korban judi online berasal dari kelompok masyarakat menengah ke bawah.
“Sebelumnya Kampung Bebas Rentenir fokus memastikan masyarakat tidak lagi bergantung kepada bank emok dan pinjaman ilegal. Sekarang muncul tantangan baru berupa judi online yang mendorong orang kembali terjerat pinjaman,” jelasnya.
Meski beberapa program yang menyasar masyarakat seperti pelatihan calon tenaga kerja yang bekerjasama dengan dinas tenaga kerja terus digulirkan, namun pengguna judol dan pinjol terus bertambah.
Bagaimana tidak, selain untuk memenuhi kebutuhan dasar, judol seolah menjadi mata pencaharian masyarakat. Apalagi diiming imingi kemenangan dengan hadiah fantastis.
Belum lagi harga – harga kebutuhan rumah tangga melonjak tajam, yang pada akhirnya membuat angka kriminalitas ikut meningkat.
Berbagai kasus perampokan dan aksi begal disertai kekerasan di berbagai wilayah Kota Bandung, menjadi pemandangan sehari-hari.
Tak ayal, Farhan berkoordinasi dengan Polrestabes dan menggencarkan Patroli Kota Bandung. Hal itu dilakukan untuk menekan angka kriminalitas dan menjaga kenyamanan warga.
Dilihat dari berbagai sisi, harus disadari, akar permasalahan dari kasus diatas adalah minimnya lapangan kerja, sehingga masyarakat mencari jalan pintas, merampok dan membegal.
Lihat saja saat pemerintah muapun swasta membuka job fair atau lowongan kerja. Berapa ribu masyarakat yang barpanas panasan, basah kuyup akibat peluh yang membasahi badan demi mengejar “hidup” demi sesuap nasi, namun berapa persen yang diterima?
Ditambah skill SDM yang minim, disebabkan pendidikan yang hanya sampai di jenjang sekolah Dasar dan Menengah, membuat masalah di Kota Bandung semakin kompleks.
Dibutuhkan political wiil dari pemerintah untuk menutup semua aplikasi dan portal judi online. Pertanyaannya, berani nggak?
Peran anggota dewan, stakeholder terkait bahkan para pengusaha sangat dibutuhkan untuk memberangus maraknya judol dan pinjol.
Wallahualam…
Miftahul Akmal, Pemilik Kartu Utama
8253-PWI/WU/DP/II/2026/07/02/76








