BANDUNG, PelitaJabar – Anggota DPR RI Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP menegaskan, penerapan Smart City harus berorientasi pada penyelesaian masalah nyata masyarakat, mulai dari kemacetan, pengelolaan sampah, bencana alam, hingga efisiensi pelayanan publik.
“Pengembangan kota cerdas tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur teknologi, melainkan harus ditopang oleh smart governance dan smart people agar Jawa Barat dapat menjadi percontohan Smart Provinsi tingkat nasional,” tegasnya di seminar “Inovasi dan Teknologi untuk Mewujudkan Smart City: Evaluasi Dampak Nyata Teknologi di Jawa Barat” di Hotel Luxton Bandung, Selasa, 8 September 2026.
Tantangan terkait inklusivitas teknologi disampaikan Nur Adhi Purnama dari Ombudsman RI Perwakilan Jawa Barat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia mengingatkan, keberhasilan pelayanan publik berbasis digital harus memperhitungkan keterbatasan akses masyarakat menengah ke bawah terhadap perangkat pintar (smartphone).
“Sehingga inovasi yang dibuat benar-benar memberikan kemudahan, kecepatan, serta efisiensi bagi seluruh warga,” ucapnya.
Sementara narasumber ahli Prof. Suhono Supangkat menegaskan pentingnya pergeseran fokus pembangunan kota cerdas menuju pendekatan yang berpusat pada manusia (people-centric).
Keberhasilan Smart City tidak ditentukan oleh banyaknya aplikasi yang dibangun, melainkan sejauh mana teknologi tersebut memberikan manfaat langsung serta membangun kepercayaan publik.
“People-centric, human-centric. Ini yang manapun sekarang bicara ujungnya manusia, bukan ujungnya teknologi. Kami orang teknologi elektro, tapi memandangnya tetap pada manusia,” tegasnya.
Seminar yang digagas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Btrust mempertemukan wakil rakyat, akademisi, lembaga pengawas, serta pemangku kepentingan untuk mengevaluasi efektivitas dan dampak nyata penerapan teknologi di Jawa Barat. VAL








