BANDUNG, PelitaJabar – Meski anggaran dirasa sangat minim, namun para atlet NPCI tetap semangat menghadapi Pekan Paralympik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat, 22 hingga 28 November 2026 mendatang.
Ketua Umum NPCi Kota Bandung Yadi Sofyan mengatakan, walaupun kondisi keuangan tidak baik-baik saja, pihaknya tetap semangat.
“Sudah 10 cabor saya temui dan menyisakan tujuh Cabor lagi. Ahamdulillah dari semua, walaupun morat-marit dalam segi keuangan, tapi anak-anak (atlet–red) tetap semangat. Kita tetap optimis bisa memberikan yang terbaik untuk Kota Bandung,” ungkap Yadi kepada media. Senin 14 September 2026 di Bandung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam monitoring dan evaluasi (Monev), berbagai keluhan disampaikan para atlet.
“Ini kan sebenarnya luar biasa gitu. Saya juga mengalami jadi atlet dari tahun 2004 sampai sekarang. Kondisi Kota Bandung sekarang ini menjelang Peparda sangat-sangat kurang, sangat-sangat minim gitu kan.”
“Pada Porprov di Kabupaten Bekasi, itu Rp.11 miliar. Kita sekarang dengan anggaran murni cuma Rp. 7,5 miliar. Selisihnya jauh banget gitu kan. Padahal kita tuan rumah. Dikasih 11 miliar aja juara ketiga. Sedangkan kita Rp.7 miliar setengahnya lalu dituntut juara. Ini bagaimana ya kan ” papar Yadi.
Terkait persiapan, 90 persen atlet berlatih cukup bagus.
“Ya sebenarnya mah mereka itu udah lebih dari 90% kalau dilihat dari kemarin. Tapi setelah ada kabar yang kurang bagus kemarin, ya mungkin dari anggaran yang sangat minim, ya otomatis secara psikologi mereka juga terganggu,” tambahnya.
Namun dirinya menyampaikan agar para atlet memahami kondisi saat ini.
“Saya bilang ini bukan kehendak kita. Bukan pengurus NPC tidak mau berusaha. Dan bukan dari Bapak Wali Kota, Dispora dan DPRD yang tidak perhatian,” jelas Yadi lagi.
Sebagai atlet Internasional catur netra Yadi juga menyampaikan pengalamannya.
“Saya atlet nol, atlet tingkat RT sampai atlet Internasiona. Kalau atlet belum berprestasi itu kan pasti mengeluarkan uang sendiri. Kita itu kalau pengen jadi atlet ya modal heula. Apalagi misalnya di catur. Saya kan ikut turnamen ini dan itu biaya sendiri.” cerita Yadi.
Dia berharap, Wali Kota atau instansi terkait, solusi lain jika dari hibah tidak memungkinkan.
“Jangan sampai uang saku segitu, 300 ribu per bulan. Itu kurang manusiawi. Kalau menurut saya sangat-sangat kurang sekali. Pak Wali kemarin, kata Sekdispora sudah mencari tambahan dana lewat Corporate Social Responsibility (CSR). Mudah-mudahan bisa berhasil,” harap Yadi.
Pada Monev ke-10 di Cabor Judo, Yadi Sofyan juga memperkenalkan Manejer tim Blind Judo Peparda VII Kota Bandung yang dipercayakan kepada Humas NPCI Kota Bandung Bang Zul. Joel








