Ahmad Purnama Sebut Bansos Tak Memutus Mata Rantai Kemiskinan

- Penulis

Selasa, 2 Juni 2026 - 16:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ahmad Rahmat Purnama menyoroti bansos yang tidak efektif menekan angka kemuskinan. PJ/Humpro

Ahmad Rahmat Purnama menyoroti bansos yang tidak efektif menekan angka kemuskinan. PJ/Humpro

BANDUNG, PelitaJabar – Anggota Komisi I DPRD Kota Bandung Ahmad Rahmat Purnama menyebut, ketergantungan bantuan sosial (bansos) dinilai belum efektif memutus mata rantai kemiskinan.

Di Podcast Youtube “Ahmad Aja”, Kepala Dinas Sosial Kota Bandung dr. Yorisa Sativa, menjelaskan, masih ada masalah pemerataan bantuan sosial kepada warga Kota Bandung.

“Ada warga Kota Bandung yang sudah delapan tahun menerima bansos, baik itu PKH, Sembako, maupun Bantuan Langsung Tunai (BLT),” tutur Yorisa, di Kantor Sinergi Indonesia Kota Bandung, Selasa 26 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menanggapi hal tersebut, Ahmad Rahmat Purnama mendorong Dinsos Kota Bandung untuk mengevaluasi secara berkala terhadap program pengentasan kemiskinan.

“Ya, kita dorong Dinsos untuk melakukan evaluasi secara berkala, agar program pengentasan kemiskinan tidak menciptakan masyarakat yang ketergantungan pada bansos, namun menciptakan kemandirian ekonomi pada masyarakat,” kata Ahmad.

Konsep bantuan seharusnya menjadi sarana pemberdayaan yang dirancang untuk memandirikan masyarakat kurang mampu secara berkelanjutan.

“Pada dasarnya konsep bantuan dirancang untuk memandirikan masyarakat kurang mampu sehingga mereka bisa berdaya dan mampu secara berkelanjutan, bukan menjadikan masyarakat ketergantungan dengan bansos,” ujarnya.

Hal ini sejalan dengan slogan Kementerian Sosial RI terbaru yakni “Bansos Sementara, Berdaya Selamanya”.

Yorisa menganalogikan prinsip ini seperti memberikan umpan atau kail, bukan ikannya.

“Kementerian Sosial mengeluarkan tagline baru yakni “Bansos Sementara, Berdaya Selamanya”. Menurut saya mengubah paradigma Bansos yang bukan hanya sekadar ‘ikan’ (bantuan langsung), namun lebih pemberian umpan dan kail (keterampilan berkelanjutan) dengan memberikan modal usaha, pelatihan, dan stimulus ekonomi, sehingga harapannya warga miskin dapat mandiri secara finansial,” kata Yorisa.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Sosial, anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini baru mampu mencakup kurang dari setengah total warga miskin di Kota Bandung. Terdapat sekitar 60 persen warga rentan yang membutuhkan bantuan.

“Meski kapasitas fiskal pemerintah terbatas, kita (Kota Bandung) memiliki potensi kemitraan yang sangat besar. Saat ini saja tercatat ada sekira 90 Lembaga Kesejahteraan Sosial atau kelompok donor/muzaki di Kota Bandung. Kami hadir sebagai regulator untuk menjembatani LKS-LKS tersebut sesuai dengan fokus organisasi bantuan mereka, potensi ini apabila kita kelola dengan baik dampaknya bisa membantu kita untuk pengentasan kemiskinan,” ujar Yorisa.

Ahmad mempertanyakan banyaknya laporan masyarakat miskin yang sebelumnya masuk kategori miskin (Desil 1-5) namun dalam pendataan sistem justru terlempar ke desil kecukupan (desil 6–10).

“Begini, Pak Kadis, banyak masyarakat yang menyampaikan ke saya, adanya perubahan data mereka yang sebelumnya masuk ke dalam kategori miskin, namun pada update dari data terbaru mereka terlempar ke desil masyarakat yang berkecukupan, ini ada solusi enggak, Pak Kadis?” tutur Ahmad.

Menurut Yorisa, pergeseran data tersebut biasanya terjadi otomatis akibat pembaruan sistem oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) bersama BPS.

Seringkali, kondisi di lapangan berubah mendadak setelah survei dilakukan, seperti warga yang terkena PHK, bencana, atau kehilangan tulang punggung keluarga.

Pemerintah Kota Bandung meminta warga tidak panik menghadapi kendala administrasi ini.

Dinsos telah menyiagakan petugas Kasi Kesejahteraan Sosial (Kesos) serta operator aplikasi SIKS-NG (Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation) di 151 kelurahan dan 30 kecamatan di Kota Bandung untuk menyesuaikan data dengan data riil di lapangan.

“Warga yang merasa datanya tidak sesuai tinggal datang ke kelurahan dengan membawa NIK. nanti Petugas akan mengecek posisi desilnya di sistem. Jika ada sanggahan, kami akan mengusulkan proses reaktivasi untuk dilakukan ground check atau survei ulang di lapangan, sehingga desilnya bisa disesuaikan kembali dengan indikator kemiskinan yang riil,” pungkas Yorisa. ***

Berita Terkait

Ikut Jejak Sahwan, Ari Raih Virtual Give Tertinggi, Tazir Tersenggol Top 12
Saung Kosasih, Ruang Keluarga Besar Bekangdam
SDN 069 Cipamokolan Derwati Juara Umum Pramuka Kwarran, Ini Ungkapan Para ‘Champions’
11 Tim Putra dan 5 Putri Perebutkan Juara Nasional di Axis Nation Cup 2026
Cetak “Hattrick” Komisi V Dukung PWI Jabar Kembali Rebut Juara di Porwanas 2027
Dibantu Crew, Penumpang KA Yogyakarta–Cipendeuy Melahirkan dengan Selamat
Warga Kampung Datarkadak Tasikmalaya Kini Tak Lagi Kesulitan Air Bersih
Sumedang Gelar e-Voting di 92 Desa, Langkah Nyata Kesuksesan Digitalisasi

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 18:38 WIB

Ikut Jejak Sahwan, Ari Raih Virtual Give Tertinggi, Tazir Tersenggol Top 12

Minggu, 1 November 2026 - 20:31 WIB

Saung Kosasih, Ruang Keluarga Besar Bekangdam

Minggu, 1 November 2026 - 15:30 WIB

SDN 069 Cipamokolan Derwati Juara Umum Pramuka Kwarran, Ini Ungkapan Para ‘Champions’

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:43 WIB

11 Tim Putra dan 5 Putri Perebutkan Juara Nasional di Axis Nation Cup 2026

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:26 WIB

Cetak “Hattrick” Komisi V Dukung PWI Jabar Kembali Rebut Juara di Porwanas 2027

Berita Terbaru

Pangdam III/Slw Mayjen TNI Kosasih berpose bersama Kabakengdam dan prajurit usai meresmikan Saung Kosasih. PJ/Dok

FEATURED

Saung Kosasih, Ruang Keluarga Besar Bekangdam

Minggu, 1 Nov 2026 - 20:31 WIB