BANDUNG, PelitaJabar – Dukungan kepada Mayor Jenderal (Mayjen) TNI (Pur ) Dwi Jati Utomo sebagai Ketua Umum KONI Jawa Barat periode 2026-2030 terus mengalir deras.
Bisa jadi Jenderal yang sudah mengabdi 36 tahun di dunia kemeliteran ini dan berpengalaman juga dalam dunia pembinaan olahraga prestasi seperti Cabor Hoki dan Wushu ini, — terpilih dengan meyakinkan secara aklamasi.
“Bukan mendahulukan Tuhan, tapi saya yakin pak Dwi dengan mantap terpilih memimpin KONI. Apalagi pasca Rakerprov kemarin lebih 50 Cabor dan Badan Fungsional mendukungnya secara tertulis. Dan akan terus bertambah dukungan itu. Tak tertahanlah,” kata seorang pimpinan cabor yang minta tidak disebutkan namanya kepada PJ Sabtu 5 September 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seperti pimpinan KONI Jabar terdahulu juga berasal dari meliter, Dwi Jati juga dekat dengan orang nomor satu di Jawa Barat yaitu KDM.
Dia sendiri manyatakan kesiapannya.
“Sangat siap. Saya berencana ingin maju menjadi Ketum KONI Jabar periode 2026-2030. Kenapa saya ingin maju? Saya mencintai olahraga. Saya suka olahraga dan saya beberapa kali menjadi ketua cabang olahraga, yakni hoki dan sekarang Wushu,” kata mantan Dandim 0618 di Bandung.
Sebagai masyarakat Sunda, dirinya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi terbaik terhadap perkembangan olahraga Jawa Barat.
“Saya orang Purwakarta, asli Sunda. Masa sih tidak mau mengabdikan diri? Saya juga sudah pensiun dari TNI. Jadi, banyak waktu yang tersedia untuk membina olahraga dan memajukan olahraga bersama-sama,” ucapnya
Jika dipercaya memimpin KONI Jawa Barat, Dwi Jati berjanji membawa gagasan yang menitikberatkan pada persatuan dan peningkatan prestasi.
Visinya adalah bersatu untuk meraih juara. Prestasi olahraga tidak dapat dicapai tanpa adanya kolaborasi antara KONI, cabang olahraga, KONI kabupaten/kota, pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya.
“Bersatu untuk meraih juara, kemudian meningkatkan prestasi. Kalau enggak bersatu susah. Untuk menuju bersatu, kita harus berkolaborasi, saling percaya dan bersatu sama-sama,” tuturnya.
Peningkatan prestasi juga harus berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kesejahteraan atlet dan pelatih.
“Yang paling utama atlet kita harus sejahtera. Haknya jangan sekali-kali dikurangi, jangan diambil. Harus sampai kepada yang bersangkutan,” tegas Dwi Jati.
Karena itu, dia berencana menghidupkan kembali sejumlah program peningkatan kesejahteraan atlet. Seperti dukungan pendidikan mulai dari jenjang S1, S2 hingga S3, serta peluang kerja sama beasiswa dengan pihak luar negeri.
“Saya juga pernah mengurus olahraga Hoki. Mendatangkan pelatih Malaysia, yang sekarang menjadi pelatih Indonesia. Alhamdulillah, dua emas dan dua perunggu waktu itu diraih dengan pelatih dari Malaysia di PON Papua,” jelas Dwi.
Dia siap menghadapi calon lain dalam Musorprov KONI Jawa Barat. Dikatakan, terdapat 110 total pemilik suara di Musorprov Desember 2026 mendatang.
“Masa di negara demokrasi enggak boleh ada calon lain? Ini bebas siapa saja. Yang penting voter-voter-nya mendukung enggak,” katanya.
Sementara kedekatannya dengan sang gubernur, bukan sekadar hubungan politik. Namun terjalin sejak dirinya masih aktif sebagai perwira TNI dan Dedi Mulyadi Wakil Bupati Purwakarta.
“Saya kenal lama beliau sekitar 30 tahun lalu. Sejak saya mayor dan komandan batalyon. Karena saya orang Purwakarta, saya sering kembali ke Purwakarta kalau libur dan sering bertemu beliau ketika Wakil Bupati,” paparnya
Mengenai dukungan pemerintah terhadap KONI Jawa Barat apabila dirinya terpilih, harus dibangun secara terbuka.
“Lebih mudah, pasti. Masa sih, sobatnya mau jadi Ketua KONI tidak didukung? Saya juga sebagai ketua cabor merasakan sulitnya membina olahraga, apalagi yang masih tergantung APBD,” ujarnya.
Terlebih menghadapi babak kualifikasi PON pada 2027, anggaran harus disiapkan sejak dini.
“Kita dapat informasi, BK PON memerlukan sekitar Rp. 200 miliar. Pak Gubernur siap menyiapkan,” pungkas sang jenderal. Joel








