BANDUNG, PelitaJabar — Menurut Bandung Road Safety Annual Report (BRSAP) 2017, terjadi 501 kasus, 127 orang tewas serta 38 lainnya luka berat. Yang mengkhawatirkan, 57 persen melibatkan pengguna motor.
Sementara tingkat tertinggi akibat kecelakaan rentang usia 15-24 tahun. Menurut Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK), kerugian materil akibat kecelakaan di jalan raya 2,9-3,1 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB).
Hal itu terungkap saat Pemerintah Kota Bandung bersama Bloomberg Philanthropies Initiative for Global Road Safety (BIGRS) memperingati Hari Korban Tabrakan Lalu Lintas Sedunia atau World Day of Remembrance for Road Traffic Victims, di kawasan Car Free Day Dago di jalan Ir.H.Juanda Bandung Minggu (20/11).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Keselamatan di jalan merupakan hak semua orang,” kata Kepala Diskominfo Kota Bandung Ahyani.
Dikatakan, Pemkot Bandung sangat peduli dengan permasalahan yang dialami korban kecelakan lalu-lintas.
“Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah kota Bandung untuk meminimalisir faktor terjadinya kecelakaan lalulintas, salah satunya perbaikan prasarana jalan, serta menegakkan aturan dan disiplin berlalulintas,” ujarnya.
Kanit Laka Satlantas Polrestabes Bandung Iptu Angga Rahardiman mengungkapkan, angka kecelakaan lalulintas di kota Bandung saat ini cenderung menurun.
“Dengan adanya sosialisasi seperti ini diharapkan angka kecelakaan khususnya roda dua menjadi turun. Khusus kota Bandung kecelakaan terjadi mayoritas karena faktor manusia, baik itu kecapean atau mengantuk,” tegasnya.
Wika, salah satu korban kecelakaan mengatakan, dirinya mengalami kecelakan lalu-lintas di Tol Pasirkoja.
“Waktu itu mobil taksi online yang saya tumpangi bersama ibu saya mengalami kecelakaan, akibat kejadian tersebut ibu saya dan pengemudi taksi online meninggal dunia,” ucapnya lirih,
Dikatakan, saat itu ada mobil dari arah berlawanan menabrak pembatas jalan dan terguling kearah mobil yang dia tumpangi. Mal