BANDUNG, PelitaJabar – Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Bandung, Aryatri Benarto menilai, optimalisasi implementasi Posyandu berbasis enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) penting.
Pasalnya, posyandu saat ini tidak lagi hanya berfokus pada layanan kesehatan, tetapi berkembang mencakup enam bidang pelayanan, yaitu kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat, serta sosial. Untuk itu, perlu monitoring dan evaluasi (monev) secara berkala.
“Monitoring dan evaluasi ini bertujuan untuk melihat sejauh mana pemahaman kader serta implementasi pelayanan Posyandu berbasis enam bidang SPM yang mulai dijalankan secara optimal pada tahun 2026 ini,” ujarnya di Posyandu Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Selasa, 7 April 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Transformasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran posyandu sebagai pusat pelayanan masyarakat berbasis komunitas yang terintegrasi.
“Kegiatan ini bukan untuk menilai, tetapi untuk belajar bersama. Kita ingin mengetahui kondisi riil di lapangan, termasuk kekurangan, kelebihan, serta hambatan yang dihadapi, agar dapat dicarikan solusi bersama,” bebernya.
Arya juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung keberhasilan Posyandu 6 SPM.
Posyandu kini menjadi bagian dari Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK) yang membutuhkan sinergi berbagai pihak.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kolaborasi antara TP PKK, LPM, RT, RW, serta pemerintah kelurahan dan kecamatan. Semangat gotong royong menjadi kunci utama,” ungkapnya.
Selain membahas posyandu, Arya juga menyinggung sejumlah isu aktual yang menjadi perhatian di Kota Bandung, di antaranya persoalan sampah dan dampak cuaca ekstrem.
“Hal ini menjadi bagian penting yang harus kita pahami bersama, termasuk dalam konteks kesiapsiagaan masyarakat melalui posyandu, khususnya pada bidang ketertiban umum dan perlindungan masyarakat,” pungkasnya. ***








