BANDUNG, PelitaJabar – Lantunan Doa untuk para jurnalis yang belum ditemukan saat menjalankan tugas letusan gunung anak Krakatau, terus mengalir termasuk dari Kota Bandung.
Ulama K.H. Shodiq Nawawi mendoakan agar para jurnalis yang hingga kini belum ditemukan mendapatkan jalan terbaik dari Allah SWT.
K.H. Shodiq menilai para jurnalis tersebut sedang menjalankan tugas ketika musibah terjadi. Karena itu, ia berharap mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yakin, para jurnalis itu termasuk syuhada karena mereka sedang melaksanakan tugas liputan untuk menyempurnakan pengetahuan dan pengalaman,” ujar K.H. Shodiq usai berdoa bersama para jamaah di Masjid Agung, alun-alun Bandung, Rabu 16 September 2026.
Ia juga mendoakan agar amal para jurnalis tersebut diterima Allah SWT.
Dukungan serupa disampaikan Ketua Nazir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah.
Menurut Roedy, doa menjadi salah satu bentuk kepedulian Masjid Agung Bandung terhadap keluarga korban dan tim yang masih bekerja mencari keberadaan para jurnalis.
Ia mengatakan, doa bersama dilakukan setelah salat Zuhur dan diikuti lebih dari 200 jemaah.
“Dengan kekuatan doa ini, salah satu bentuk kepedulian dari keberadaan kami selaku Nazir Masjid Agung Bandung,” kata Roedy.
Rob Hammink, jurnalis asal Belanda yang menulis novel *Jodoh*, turut menyampaikan doa bagi para jurnalis.
Bagi Hammink, penghormatan terhadap jurnalis dalam doa tersebut memiliki makna yang kuat.
Meski tidak memahami teks doa yang dibacakan, ia mengaku dapat merasakan pesan yang disampaikan melalui suasana di masjid.
Menurut dia, jurnalis kerap harus mendatangi tempat-tempat berbahaya untuk menjalankan tugas dan memberikan informasi kepada masyarakat.
“Saya sangat paham tugas jurnalis, karena selama sekitar 30 tahun menjadi wartawan saya tahu risiko profesi tersebut,” ucapnya.
Hammink pernah menjalankan tugas jurnalistik di sejumlah wilayah yang menghadapi situasi sulit, termasuk Afrika, Kongo, Irak, dan Kashmir.
“Saya sangat mengerti apa artinya itu, karena saya sendiri 30 tahun menjadi wartawan untuk Telegraph,” ujarnya.
Kedatangannya ke Bandung sendiri berkaitan dengan perjalanan personal dan profesional. Ia membawa warisan buku harian ayahnya yang pernah tinggal di Padang pada dekade 1940-an. Catatan tersebut kemudian menjadi inspirasi novel *Jodoh*, yang kini direncanakan diangkat menjadi film.
Di Bandung, Hammink juga mengajar di UPI mengenai pembuatan film, penulisan skenario, dan sejarah kolonial.
Namun, di tengah agenda tersebut, perjumpaannya dengan suasana doa untuk para jurnalis, menjadi pengalaman tersendiri.
Pada akhirnya, doa yang dipanjatkan di Masjid Agung Bandung bukan hanya tentang pencarian terhadap mereka yang belum ditemukan. Namun menjadi pengingat, di balik setiap berita terdapat manusia yang menjalankan tugas, keluarga yang menunggu, serta risiko yang harus dihadapi seorang jurnalis.
Doa menjadi bentuk dukungan yang dapat diberikan kepada mereka yang masih menanti kepastian. ***








