Mengurai Lamanya Antrian Haji

- Penulis

Minggu, 13 Juni 2021 - 09:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

UNTUK kali kedua, 2500 calan jamaah haji asal kabupaten Bandung kembali menelan kekecewaan. Pemerintah memutuskan penyelenggaraan haji tahun ini kembali ditiadakan. Pemerintah Arab Saudi pun akhirnya mengeluarkan keputusan untuk membatasi jemaah haji tahun 2021 hanya 60.000 orang  yang diperuntukkan bagi warga domestik dan ekspatriat.

Kepala Seksi Haji Kementerian Agama Kabupaten Bandung, Isak mengatakan 2.500 calon jamaah haji yang harusnya berangkat pada 2020 lalu, kembali gagal berangkat tahun 2021 ini.

Jika ditotal, jumlah calon jamaah haji asal Kabupaten Bandung yang gagal berangkat berjumlah 5.000 orang yang merupakan kuota tahun 2020 dan 2021. Hal tersebut disampaikan Ishak saat On Air di Radio PRFM 107,5 News Channel pada Senin, 7 Juni 2021.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Isak menambahkan, pendaftaran tetap dibuka dengan asumsi pemberangkatan akan mundur selama 2 tahun dari waktu normal.

“Yang mendaftar pun sudah tahu bahwa keberangkatannya mundur. Karena 2020 tidak berangkat dan 2021 tidak berangkat otomatis mundur 2 tahun,” terangnya.

Artinya, jika antriannya adalah 20 tahun, maka jika mendaftarkan diri pada 2021 baru dapat berangkat 22 tahun kemudian.

 

Haji : Kewajiban Agung

Allah SWT. telah menetapkan haji sebagai fardhu ‘ain bagi kaum Muslimin yang memenuhi syarat dan berkemampuan. Allah SWT berfirman :
وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (TQS Ali ‘Imran [3]:97).

Nabi SAW bersabda :

“Wahai manusia, Allah SWT telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah. (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat dan berkemampuan untuk menunaikannya, maka kewajiban haji telah ada di pundaknya.

 

Lamanya Antrean

Pada faktanya  penunaian kewajiban ibadah haji bagi yang sudah mampu,  terkendala oleh lamanya antrian keberangkatan haji. Dalam kondisi tanpa wabah pun  antrean sudah cukup lama. Ada wilayah di Sulawesi Selatan yang antrean hajinya mencapai 44 tahun. Ditambah dengan adanya wabah Covid-19 menambah panjang daftar antrian.

Persoalan  mendasar dari lamanya antrean ini terletak pada pengelolaan haji yang dilakukan oleh negara. Sudahlah kuota terbatas, haji dijadikan komoditas oleh lembaga keuangan untuk memutar uang mereka.

Lembaga perbankan misalnya, berbisnis dana talangan haji. Dengan dana talangan haji ini   masyarakat yang belum punya uangpun dengan mudah mendapatkan nomor porsi.

Dampaknya, calon jamaah haji pun meningkat dan kemudian bertemu dengan keterbatasan kuota,  terjadilah antrian panjang yang luar biasa lama. Wajar jika dari tahun ke tahun daftar tunggu haji kian panjang hingga mencapai lebih dua puluh tahun.

Dari lamanya antrean ini  yang diuntungkan ada dua pihak. Pertama, lembaga keuangan karena uangnya bisa diputar.

Kedua, Pemerintah, karena mendapatkan manfaat berupa bunga atau bagi hasil dari dana yang diputar. Tetapi yang dirugikan adalah calon jamaah haji, karena mereka harus melunasi cicilan, sambil menunggu antrian diatas dua puluh tahun agar bisa berangkat haji.

Dari sini jelaslah bahwa masalah lamanya antrean bermuara pada dua hal. Pertama, lembaga perbankan yang menyediakan dana talangan. Kedua, menjadikan haji sebagai komoditas bisnis. Masalah ini lahir dari penerapan ekonomi kapitalis yang memang melihat sesuatu dari sisi untung rugi. Ibadah haji pun menjadi  ceruk bisnis yang bisa dieksploitasi.

Tentu menjadi pertanyaan, apakah mungkin negara bisa menyelesaikan masalah ini?.

Lamanya antrean keberangkatan haji bisa diselesaikan jika paradigma pengelolaan haji yang dilakukan oleh negara benar. Itu tidak lain adalah paradigma Islam yang dibimbing wahyu.

Islam memberikan tanggungjawab kepada negara  untuk mengurus pelaksanaan haji dan keperluan jamaah haji. Catatan sejarah menunjukkan betapa besar perhatian dan pelayanan yang diberikan oleh Khalifah kepada jamaah haji. Mereka dilayani sebaik-baiknya sebagai tamu Allah.

Pelayanan itu dilakukan tanpa ada unsur bisnis atau mengambil keuntungan dari pelaksanaan ibadah haji. Semua merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh negara.

Islam melarang lembaga perbankan mempraktekkan riba. Status dana talangan haji yang yang menjadi magnet hingga orang belum mampu memaksakan diri berutang dalam menunaikan kewajiban jelas keliru. Praktek seperti ini harus dihentikan karena riba. Dengan dihentikannya praktek semacam ini, dengan sendirinya calon jamaah haji akan kembali pada kondisi alamiah.

Bagi mereka yang sudah masuk daftar antrian, bisa dikaji kondisinya, apakah benar-benar mampu atau tidak. Bagi yang tidak mampu bisa diberi pilihan, apakah dananya mereka tarik, ataukah tetap digunakan untuk haji.

Secara syar’i, prioritasnya memang demikian. Bagi yang mampu tentu bisa tetap menggunakan dana tersebut untuk menunaikan kewajiban haji.

Jika ini dilakukan maka calon jamaah haji dengan sendirinya bisa berkurang secara alami. Sampai kondisinya benar-benar normal.

Semua itu mungkin, jika penguasanya amanah. Berpikir mengurus dan melayani urusan haji dengan sebaik-baiknya. Bukan berfikir kepentingan dan bisnis. Apalagi menjadikan umat sebagai komoditas bisnis.

Hanya dengan cara inilah, masalah lamanya antrean keberangkatan haji bisa diselesaikan dengan tuntas. ***

foto : harianterbit.com

Komentari

Berita Terkait

Sejak Dibuka, KA Sangkuriang Layani 6000 Lebih Pelanggan
Anggaran Belum Cair, Bagaimana Nasib Atlet & Porprov 2026
Dari Seminar Bersinergi Membangun Negeri, Mayjen TNI Kosasih Sebut Kolaborasi Harus Berdampak Nyata
Bangun Negeri, Kodam III/Slw dan UNPAK Lakukan Kerjasama Strategis
Hindari Kecelakaan, KAI Tutup Puluhan Pintu Tak Terjaga
PWI Pusat Bentuk Tim Website & Podcast
Pesan KDM untuk Pasutri Disabilitas Tuna Rungu
Percepat Penanganan PPA dan TPPO, DP3AKB Jabar Gandeng Kemenham

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:57 WIB

Sejak Dibuka, KA Sangkuriang Layani 6000 Lebih Pelanggan

Kamis, 7 Mei 2026 - 13:55 WIB

Anggaran Belum Cair, Bagaimana Nasib Atlet & Porprov 2026

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:00 WIB

Dari Seminar Bersinergi Membangun Negeri, Mayjen TNI Kosasih Sebut Kolaborasi Harus Berdampak Nyata

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:37 WIB

Bangun Negeri, Kodam III/Slw dan UNPAK Lakukan Kerjasama Strategis

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:06 WIB

Hindari Kecelakaan, KAI Tutup Puluhan Pintu Tak Terjaga

Berita Terbaru

Selama seminggu sejak beroperasi, tercatat 6000 lebih pelanggan menggunakan layanan KA Sangkuriang. PJ/Dok

FEATURED

Sejak Dibuka, KA Sangkuriang Layani 6000 Lebih Pelanggan

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:57 WIB

Belum cairnya anggaran Porprov 2026, membuat beberapa atlet di Jabar hengkang. PJ/Dok

FEATURED

Anggaran Belum Cair, Bagaimana Nasib Atlet & Porprov 2026

Kamis, 7 Mei 2026 - 13:55 WIB

Petugas KAI Daop 2 Bandung menutup salah satu perlintasan sebidang ilegal. PJ/Dok

FEATURED

Hindari Kecelakaan, KAI Tutup Puluhan Pintu Tak Terjaga

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:06 WIB