Anggaran Belum Cair, Bagaimana Nasib Atlet & Porprov 2026

- Penulis

Kamis, 7 Mei 2026 - 13:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Belum cairnya anggaran Porprov 2026, membuat beberapa atlet di Jabar hengkang. PJ/Dok

Belum cairnya anggaran Porprov 2026, membuat beberapa atlet di Jabar hengkang. PJ/Dok

ADA APA dengan olahraga Jawa Barat? Bak cacing kepanasan, semua seolah seperti “menggelepar”.

Kegelisahan demi kegelisahan terus terjadi, perlahan tapi pasti, para pelaku olahraga di Jawa Barat tak tahu arah. Padahal “muara prestasi” yang dituju dan merupakan titik kulminasi pembinaan para atlet adalah Porprov.

Porprov seharusnya menjadi panggung pembuktian dan ruang lahirnya talenta baru, justru dibayangi ketidakpastian.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masalahnya apa? Anggaran. — ya anggaran. Namun persoalannya tidak berhenti pada angka-angka di atas kertas.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah komunikasi yang belum terlihat jelas antara pimpinan KONI Jawa Barat dan para pemangku kebijakan anggaran di Pemerintah Provinsi (Pemprov).

Bahkan, relasi antara pimpinan KONI dan kepala daerah pun menjadi sorotan, seolah ada jarak yang belum terjembatani.

Ada apa ini?

Situasi ini dengan cepat memunculkan spekulasi di ruang publik. Ketika komunikasi tidak terbuka, maka asumsi akan mengambil alih.

Dugaan mengenai kurang harmonisnya hubungan antara KONI Jawa Barat dan kepala daerah pun menguat.

Terlepas benar tidaknya, satu hal yang pasti adalah ketidakjelasan ini, — menciptakan ketidakpastian. Dalam dunia olahraga, ketidakpastian adalah musuh terbesar dari pembinaan.

Di tengah kondisi seperti ini, pihak yang paling terdampak bukanlah para pengambil keputusan, melainkan para atlet.

Mereka yang setiap hari berlatih, menjaga disiplin, dan menggantungkan harapan pada ajang seperti Porprov, kini dihadapkan pada situasi yang tidak menentu.

Padahal Porprov bukan sekadar kompetisi rutin. Porprov adalah bagian penting dari rantai pembinaan, sebuah ajang untuk membidik, mengasah, dan menyiapkan atlet menuju level yang lebih tinggi, termasuk PON NTT-NTB 2028 di depan mata.

Ketika ruang pembinaan ini terganggu, dampaknya bisa panjang. Atlet yang tidak mendapatkan kejelasan akan mulai mencari kepastian di tempat lain.

Fenomena ini bukan sekadar kemungkinan, tetapi sudah mulai terjadi.

Beberapa cabang olahraga seperti renang dan atletik dikabarkan mulai kehilangan atletnya yang memilih berpindah ke DKI Jakarta, dianggap mampu memberikan dukungan lebih jelas.

Ini bukan sekadar kehilangan individu, tetapi potensi hilangnya masa depan prestasi Jawa Barat.

Pertanyaannya menjadi sangat sederhana namun juga mendesak,  apakah kita akan menunggu sampai semakin banyak atlet berprestasi Jawa Barat hengkang ke daerah lain?

Atau justru ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk menurunkan ego, membuka ruang dialog, membangun kembali komunikasi yang sehat?

Dalam situasi seperti ini, peran pimpinan menjadi sangat krusial. KONI sebagai motor penggerak olahraga daerah perlu mengambil langkah proaktif untuk menjembatani komunikasi dengan pemerintah daerah.

Di sisi lain, kepala daerah dan pemangku kebijakan anggaran juga memiliki tanggung jawab memastikan bahwa olahraga tetap mendapatkan perhatian yang proporsional.

Koordinasi dan konsolidasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak jika kita ingin menjaga keberlanjutan prestasi.

Jawa Barat bukan daerah biasa dalam peta olahraga Nasional. Rekor sebagai juara umum PON tiga kali “Hattrick” berturut-turut bukanlah pencapaian yang datang secara instan.

Semua adalah hasil dari ekosistem yang terbangun dengan kerja keras, konsistensi, dan kolaborasi banyak pihak.

Karena itu, mempertahankannya membutuhkan komitmen yang sama, jika tidak lebih besar.

Tulisan ini bukan untuk menyudutkan satu pihak, melainkan sebagai ajakan untuk semua yang peduli terhadap olahraga Jawa Barat.

Kita perlu lebih kritis membaca situasi, lebih peka terhadap dampak yang mungkin timbul, dan lebih berani mendorong solusi.

Ego sektoral harus dikesampingkan, digantikan dengan semangat kolaborasi. Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah ajang Porprov, tetapi masa depan atlet, keberlanjutan prestasi, dan identitas Jawa Barat sebagai barometer olahraga Nasional.

Jika hari ini memilih diam, maka kita sedang memberi ruang bagi kemunduran. Namun jika semua pihak mau duduk bersama, membuka komunikasi, dan mengambil langkah nyata, maka Porprov bukan hanya bisa terselamatkan, tetapi juga kembali menjadi titik tolak lahirnya generasi juara berikutnya.

Jauhkan ego, duduk bersama. Mari selamatkan atlet kita, olahraga kita dan marwah Jabar kiblat olahraga Nasional. Joelkarnain

Komentari

Berita Terkait

Dari Seminar Bersinergi Membangun Negeri, Mayjen TNI Kosasih Sebut Kolaborasi Harus Berdampak Nyata
Bangun Negeri, Kodam III/Slw dan UNPAK Lakukan Kerjasama Strategis
Hindari Kecelakaan, KAI Tutup Puluhan Pintu Tak Terjaga
PWI Pusat Bentuk Tim Website & Podcast
Pesan KDM untuk Pasutri Disabilitas Tuna Rungu
Percepat Penanganan PPA dan TPPO, DP3AKB Jabar Gandeng Kemenham
Jaga Kelestarian Lingkungan, Larang Tebang Pohon Sepanjang Jalan Provinsi di Kota Bandung
KDM Serahkan Bantuan Bagi Korban KRL

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 13:55 WIB

Anggaran Belum Cair, Bagaimana Nasib Atlet & Porprov 2026

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:00 WIB

Dari Seminar Bersinergi Membangun Negeri, Mayjen TNI Kosasih Sebut Kolaborasi Harus Berdampak Nyata

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:37 WIB

Bangun Negeri, Kodam III/Slw dan UNPAK Lakukan Kerjasama Strategis

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:06 WIB

Hindari Kecelakaan, KAI Tutup Puluhan Pintu Tak Terjaga

Selasa, 5 Mei 2026 - 09:08 WIB

PWI Pusat Bentuk Tim Website & Podcast

Berita Terbaru

Belum cairnya anggaran Porprov 2026, membuat beberapa atlet di Jabar hengkang. PJ/Dok

FEATURED

Anggaran Belum Cair, Bagaimana Nasib Atlet & Porprov 2026

Kamis, 7 Mei 2026 - 13:55 WIB

Petugas KAI Daop 2 Bandung menutup salah satu perlintasan sebidang ilegal. PJ/Dok

FEATURED

Hindari Kecelakaan, KAI Tutup Puluhan Pintu Tak Terjaga

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:06 WIB

Ketua Tim Penyelaras Anrico Pasaribu menyerahkan naskah final AD/ART, Kode Etik Jurnalistik (KEJ), dan Kode Perilaku Wartawan (KPW) kepada Ketua Umum Akhmad Munir, disaksikan jajaran pengurus dalam rapat pleno PWI Pusat Jakarta, Senin (4/5/2026). PJ/Dok

FEATURED

PWI Pusat Bentuk Tim Website & Podcast

Selasa, 5 Mei 2026 - 09:08 WIB