BNNP Sebut Jabar Jadi Kota Transit Narkoba Nasional, Anak 13-15 Tahun Terpapar Narkotika

- Penulis

Kamis, 10 September 2026 - 06:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BNNP Jawa Barat Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., M.Si., PJ/Dok

Kepala BNNP Jawa Barat Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., M.Si., PJ/Dok

BANDUNG, PelitaJabar – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Barat mencatat sejumlah kasus peredaran narkoba. Bahkan, pengungkapan pabrik PCC di Kawalu, Tasikmalaya, mampu memproduksi jutaan pil setiap hari, serta pengungkapan pabrik narkotika di wilayah Cimahi, membuktikan Jabar pasar potensial.

BNNP Jabar juga pernah mengungkap peredaran dalam jumlah besar, termasuk penangkapan sekitar lima ton ganja di Kota Bogor.

Kepala BNNP Jawa Barat Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., M.Si., mengatakan posisi dan jumlah penduduk Jawa Barat membuat wilayah tersebut menjadi perhatian serius bagi jaringan peredaran narkotika.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jawa Barat menjadi batu loncatan dari banyak kasus narkotika nasional,” beber Sulistyo dalam podcast Basa Basi PWI Kota Bandung, Rabu 9 September 2026.

Persoalan narkoba tidak hanya berkaitan dengan penindakan terhadap bandar dan pengedar. Ancaman yang jauh lebih besar adalah dampaknya terhadap generasi muda.

“Rehabilitasi BNN tidak sedikit yang masih berusia remaja. Bahkan, terdapat anak 13 hingga 15 tahun yang sudah terpapar narkoba. Pengguna terbanyak itu ya generasi muda,” katanya.

Pemerintah daerah selama ini terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan. Namun, upaya tersebut akan menghadapi persoalan serius jika generasi muda terpapar narkoba.

“Kalau upaya pendidikan yang tinggi ditarik lagi ke belakang oleh peredaran narkoba yang masif, tentu menjadi persoalan,” ujarnya.

Karena itu, BNNP Jawa Barat memperkuat pengawasan berbagai jalur yang digunakan jaringan narkotika, mulai dari darat, laut hingga udara.

Wilayah pesisir selatan Jawa Barat, termasuk kawasan Pangandaran hingga Garut, juga menjadi perhatian.

Nelayan tradisional juga berpotensi dimanfaatkan oleh jaringan pengedar untuk melakukan transaksi di tengah laut.

Selain jalur laut, pengawasan terhadap penerbangan juga menjadi perhatian. BNN melakukan pemeriksaan atau screening secara insidental berdasarkan momentum maupun informasi intelijen.

“Tidak ada ruang hukum di Indonesia yang tidak bisa dimasuki oleh BNN. Di mana pun potensi penyalahgunaan itu ada,” tegas Sulistyo.

Kasus pilot asal Malaysia yang membawa sabu dalam jumlah puluhan kilogram, menunjukkan jaringan narkotika dapat memanfaatkan berbagai profesi dan jalur untuk menyelundupkan barang haram.

“Secara prinsip hukum, tidak ada manusia yang kebal hukum,” ujarnya.

Karena itu dia meminta masyarakat tidak takut berhubungan dengan BNN, khususnya ketika membutuhkan bantuan rehabilitasi bagi anggota keluarga yang sudah terlanjur menggunakan narkotika.

Ia menegaskan layanan rehabilitasi yang disediakan BNN bagi masyarakat tidak dipungut biaya.

“Rehabilitasi di BNN itu gratis. Semuanya gratis,” katanya.

Selain penindakan dan rehabilitasi, BNNP Jawa Barat juga mengembangkan pendekatan pencegahan yang lebih dekat dengan generasi muda.

Salah satunya melalui seni tradisional Sunda, khususnya pupuh Sinom.

Pupuh tersebut sejak dahulu digunakan sebagai media untuk menyampaikan nasihat dan pepeling kepada generasi muda.

“Nasihatnya ini untuk anak muda, agar mereka memiliki daya tangkal, daya tahan dan pengetahuan bahwa narkoba ini berbahaya,” jelasnya.

Inovasi tersebut bahkan telah dikembangkan melalui kegiatan lomba ngawih yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Sekitar 182 peserta, terdiri dari seniman muda, remaja, pelajar dan seniman profesional, ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.

Diharapkan, pesan antinarkoba dapat menjadi nilai yang tertanam sejak dini.

“Narkoba sering diawali dengan pemberian secara gratis. Setelah korban mulai ketagihan, pengedar kemudian membuat pengguna bergantung dan terlilit utang,” sebutnya.

Karena itu, ia meminta generasi muda tidak perlu takut dianggap tidak gaul atau pengecut ketika menolak narkoba.

“Tidak apa-apa kalau dianggap cemen. Yang penting sehat,” pungkasnya seraya mengajak masyarakat segera melaporkan apabila mengetahui adanya aktivitas peredaran narkoba di lingkungan sekitar. ***

Berita Terkait

11 Tim Putra dan 5 Putri Perebutkan Juara Nasional di Axis Nation Cup 2026
Cetak “Hattrick” Komisi V Dukung PWI Jabar Kembali Rebut Juara di Porwanas 2027
Dibantu Crew, Penumpang KA Yogyakarta–Cipendeuy Melahirkan dengan Selamat
Warga Kampung Datarkadak Tasikmalaya Kini Tak Lagi Kesulitan Air Bersih
Sumedang Gelar e-Voting di 92 Desa, Langkah Nyata Kesuksesan Digitalisasi
Elizabeth Kenalkan “Bloom Benneat The Surface” di JFW 2027
Emblem Baru, DFSK Tawarkan Subsidi Trade in Hingga 80 Juta di Ajang PEVS 2026
Kejahatan AI Makin Masif, Jurnalis Dituntut Edukasi Masyarakat

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:43 WIB

11 Tim Putra dan 5 Putri Perebutkan Juara Nasional di Axis Nation Cup 2026

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:26 WIB

Cetak “Hattrick” Komisi V Dukung PWI Jabar Kembali Rebut Juara di Porwanas 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:41 WIB

Dibantu Crew, Penumpang KA Yogyakarta–Cipendeuy Melahirkan dengan Selamat

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:19 WIB

Warga Kampung Datarkadak Tasikmalaya Kini Tak Lagi Kesulitan Air Bersih

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:44 WIB

Sumedang Gelar e-Voting di 92 Desa, Langkah Nyata Kesuksesan Digitalisasi

Berita Terbaru