Bukan Orkestra, Kuliner Bandung Mampu Ciptakan Harmoni & Nilai Spiritual

- Penulis

Minggu, 19 Oktober 2025 - 12:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perhelatan bertajuk “Pesuguhan: A Sensoritual Gastrodiplomacy”, bagian dari rangkaian Asia Africa Youth Forum (AAYF) 2025 di Pendopo Wali Kota Bandung. PJ/Dok

Perhelatan bertajuk “Pesuguhan: A Sensoritual Gastrodiplomacy”, bagian dari rangkaian Asia Africa Youth Forum (AAYF) 2025 di Pendopo Wali Kota Bandung. PJ/Dok

BANDUNG, PelitaJabar – Bukan orkestra, apalagi gamelan, melainkan musik yang lahir dari dapur, seperti dentingan sendok logam dan gemericik air, di mana aroma rempah, rasa, dan suara berpadu menjadi satu harmoni yang menenangkan jiwa.

Begitulah suasana cita rasa, budaya, dan diplomasi berpadu dalam sebuah perhelatan bertajuk “Pesuguhan: A Sensoritual Gastrodiplomacy”, bagian dari rangkaian Asia Africa Youth Forum (AAYF) 2025.

Tak hanya pengalaman kuliner yang memanjakan lidah, namun juga mengangkat nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan kerja sama antarbangsa melalui makanan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya pernah ke New York dan menyaksikan bagaimana restoran Korea bisa mengubah wajah sebuah jalan. Itulah kekuatan gastrodiplomasi, diplomasi melalui rasa,” beber Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di hadapan tamu dari berbagai negara, termasuk Rwanda, Guinea, Uni Emirat Arab, dan Papua Nugini.

Kuliner bukan sekadar urusan dapur atau bisnis, namun bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang kini tumbuh pesat di Indonesia, dan Bandung sebagai salah satu pusatnya.

“Makanan tradisional seperti bubur hanjeli atau wedang tebu bukan hanya hidangan lokal, tetapi juga simbol ketahanan pangan dan identitas bangsa,” tambahnya.

Baginya, pesuguhan hari itu adalah ajakan untuk memahami kekuatan rasa, bagaimana satu sendok makanan bisa menghadirkan kedekatan, kepercayaan, bahkan perdamaian.

Sekretaris Kemenparekraf, Dessy Ruhati menjelaskan, sensorial gastrodiplomacy adalah bentuk diplomasi rasa yang memadukan unsur indra rasa, aroma, tekstur dengan nilai spiritualitas seperti syukur, refleksi, dan empati.

“Makanan sederhana seperti tiwul, gatot, cireng, atau papeda membawa jiwa leluhur kita. Dari keterbatasan, lahir kreativitas dan ketangguhan. Itulah semangat sensorial gastrodiplomacy,” jelasnya.

Berbagai program seperti Indonesia Spice Up the World, Creative Culinary Hubs, dan Bangga Buatan Indonesia menjadi wadah memperkenalkan kuliner Nusantara ke dunia.

“Melalui rasa, aroma, dan cerita, mereka menemukan kekuatan sejati dari cita rasa dan kebersamaan. Di sanalah sensorial itu dimulai — bukan di lidah, tapi di hati,” pungkas Dessy. ***

 

Komentari

Berita Terkait

Mantap, KA Sangkuriang Hubungkan Berbagai Kota di Jabar, Jateng Hingga Jatim
Makin Seru, Telkomsel Hadirkan Promo Internet di Jabodetabek Jabar
Penghargaan Atlet Sea Games & ASEAN Para Games Dibayar September
Akibat Gogosan, KA 345 Siliwangi Tak Bisa Lewat, Perjalanan Hari Ini Dibatalkan
Apa Kabar Bonus Atlet & Pelatih Sea Games KDM?
Arief Optimis “Quattrick” di PON Tercapai Jika Dana Mendukung
Jadi Tuan Rumah Kejurnas Karate, FORKI Jabar Siapkan Rp 1,8 Milyar
Siapkan Langkah Strategis Jelang Peparda, NPCI Kota Bandung Gelar Rapat Pleno

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 22:47 WIB

Mantap, KA Sangkuriang Hubungkan Berbagai Kota di Jabar, Jateng Hingga Jatim

Selasa, 21 April 2026 - 16:43 WIB

Makin Seru, Telkomsel Hadirkan Promo Internet di Jabodetabek Jabar

Senin, 20 April 2026 - 14:28 WIB

Penghargaan Atlet Sea Games & ASEAN Para Games Dibayar September

Senin, 20 April 2026 - 10:19 WIB

Akibat Gogosan, KA 345 Siliwangi Tak Bisa Lewat, Perjalanan Hari Ini Dibatalkan

Minggu, 19 April 2026 - 10:27 WIB

Apa Kabar Bonus Atlet & Pelatih Sea Games KDM?

Berita Terbaru

FEATURED

Apa Kabar Bonus Atlet & Pelatih Sea Games KDM?

Minggu, 19 Apr 2026 - 10:27 WIB