BANDUNG, PelitaJabar – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman membeberkan makna jiwa kepemimpinan Siliwangi.
”Pemerintahan saat ini harus memiliki jiwa kepemimpinan Siliwangi. Yakni, yang ‘nerus bumi, ngapak mega, tur napak sancang’,” katanya saat membuka Forum Organisasi Perangkat Daerah (FOPD) Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat Rabu, 18 Februari 2026.
Menurutnya, hal ini sangat scientific, di mana fokus utamanya jika dihubungkan dengan pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana menjadi kunci peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Nerus bumi berarti harus membumi, paham realitas sehari‑hari, empati terhadap lingkungan dan masyarakat. Sebagai contoh, realitas yang terjadi di sekitar kita seperti perkawinan dini, kekerasan terhadap perempuan dan anak, peningkatan angka perceraian, dan kasus bunuh diri anak,” bebernya
Karena itu, lanjutnya kita harus paham kedalaman setiap permasalahan yang ada, sehingga dapat melakukan pencegahan serta sinergitas sampai ke tingkat kecamatan dan kelurahan.
“Kemudian yang kedua adalah ngapak mega digunakan sebagai metafora berpikir besar, punya visi tinggi. Tidak hanya terpaku pada hal kecil, tetapi mampu melihat jauh ke depan serta harus mempunyai target ke depan,” ucap Sekda.
Adapun napak sancang berarti bisa menyelesaikan masalah dalam situasi sulit dengan anggaran terbatas. Dalam hal ini, fokus pada exit strategy.
Sejalan dengan itu, pembangunan SDM dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil dan paling fundamental dalam masyarakat.
Keluarga yang kuat, harmonis, dan berdaya menjadi fondasi lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
“Pegawai di lingkup DP3AKB perlu memberikan kontribusi bagi masyarakat, khususnya pada pencegahan kekerasan serta penanganan kekerasan secara komprehensif. Forum OPD bukan hanya formalitas. Ini hanya titik masuk melihat DP3AKB memiliki masalah yang kompleks dan juga kita harus lebih mitigatif. Sebagai catatan, provinsi adalah agregat. Kuncinya adalah kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan hingga desa,” papar Herman.
Sementara Kepala DP3AKB Provinsi Jawa Barat Siska Gerfianti menjelaskan, pemberdayaan perempuan perlindungan anak dan keluarga berencana merupakan strategi pembangunan yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas dan ketahanan keluarga.
“Upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, penguatan pengasuhan positif, serta percepatan penurunan perkawinan anak menjadi bagian penting dari agenda pembangunan daerah. Khususnya dalam peningkatan kapasitas SDM dan tata kelola pembangunan,” ungkap Siska.
Siska juga melaporkan Forum DP3AKB Jawa Barat juga membahas penguatan pembangunan keluarga melalui peningkatan kualitas pengasuhan, edukasi kesehatan reproduksi remaja, dan penguatan ketahanan ekonomi keluarga.
“Melalui forum ini diharapkan terbangun sinergi dan konvergensi program lintas sektor guna memastikan kebijakan terintegrasi dan berdampak nyata,” pungkasnya.
Forum DP3AKB Jawa Barat dihadiri perwakilan kementerian/lembaga, perangkat daerah provinsi dan kabupaten/kota se-Jawa Barat, akademisi, organisasi perempuan, Forum Anak Daerah, dan mitra pembangunan lainnya.
Hadir Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Titi Eko Rahayu, serta pejabat lainnya. ***








