BANDUNG, PelitaJabar – Tontotan tak elok dalam berdemokrasi diperlihatkan di Musyawarah Olahraga Kota Luar Biasa (Muskotlub) Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Bandung, Senin, 28 Februari 2026 lalu.
“Jalannya persidangan demi persidangan dinilai terlalu didominasi satu kelompok, sehingga mengabaikan prinsip dasar demokrasi dalam organisasi olahraga masyarakat,” tegas anggota DPRD Kota Bandung dr.Agung Firmansyah Sumantri, Senin malam 2 Maret 2026.
Situasi itu bagi Agung yang juga Bakal Calon (Balon) Ketum saat itu, — dianggap bertentangan dengan semangat kebersamaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dominasi satu pihak bagi politisi partai Nasdem ini, — membuat proses persidangan berjalan berat sebelah.
“Saya menangkap “sinyal” jalannya Muskotlub terlalu didominasi salah satu kandidat maaf sepertinya memang sudah disiapkan pihak lain untuk menang,” ucap ketua umum Ormas Buah Batu Corps (BBC) Kota Bandung ini.
Dalam kacamatanya, KORMI seharusnya lahir dari Induk Organisasi Olahraga (INORGA). Sehingga pemilik suara yaitu INORGA harusnya menjadi landasan utama dalam setiap pengambilan keputusan strategis organisasi.
Prinsip tersebut tidak tercermin dalam pelaksanaan Muskotlub.
“Di pelaksanaan Muskotlub, justru peran INORGA tidak terlihat sebagaimana mestinya. Harusnya suara dikembalikan ke INORGA. Tapi kemarin itu tidak terjadi. INORGA seolah dibuat diam atau disetir. Dan tidak berani menyampaikan pendapat,” ungkap Agung.
Lantaran kondisi itu, Agung mengaku sangat kecewa. Forum terhormat yang seharusnya berjalan secara demokrasi, justru sangat memalukan.
“Apakah pola kepemimpinan KORMI Kota Bandung akan kembali seperti sebelumnya? Artinya selalu didominasi kelompok tertentu,” ujar Agung dengan nada bertanya.
Seharusnya — KORMI bisa mengayomi seluruh INORGA.
“KORMI itu semboyannya sehat, bugar, dan gembira, iya kan. Tapi fakta lapangan INORGA tersandera oleh kepentingan sekelompok orang. Jadi, ya gak sehatlah namanya,” tambahnya.
Parahnya lagi kata dokter muda ini, terlihat orientasi organisasi yang dinilainya mulai bergeser dan fokus pada dana hibah.
“Saya sangat tidak setuju jika hibah hanya dikejar untuk dibagi-bagikan untuk kepentingan pribadi.
Sebagai anggota DPRD Kota Bandung Komisi IV yang mewadahi kesejahteraan masyarakat – termasuk didalamnya persoalan pemuda dan olahraga, saya menegaskan menolak keras penggunaan dana hibah untuk kepentingan pribadi,” ujarnya.
Dia menilai proses Muskotlub, tidak demokratis dan terkesan dipaksakan.
“Kehadirannya saya di Muskotlub untuk berkontribusi bagi kemajuan KORMI. Minimal saya kalah setelah penyampaian visi dan misi. Tapi saya tidak diberi kesempatan menyampaikannya,” tutur Agung. Joel








