BANDUNG, PelitaJabar – Tak sedikit remaja dihinggapi stres. Selain jiwa yang masih labil, remaja acapkali diidentikkan dengan penurunan psikologis. Akibatnya, tak sedikit yang mengambil jalan pintas, bunuh diri.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tercatat pada 2012, terdapat 804.000 kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia, dengan tingkat kematian tertinggi ditemukan pada usia 20 tahun. Indonesia sendiri menduduki peringkat 159 sebagai negara yang melakukan bunuh diri terbanyak.
Sementara prevalensi bunuh diri pada 2016 sebanyak 1 orang per jam. Namun, hal ini masih belum bisa dipastikan karena tidak ada alat pengukur pasti untuk menghitung angka bunuh diri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebagian besar remaja menjalani hidup dengan kondisi depresi. Faktor pemicunya, antara lain media sosial, permainan daring, merasa prestasi lebih rendah dari yang ditargetkan, dan mendapat penolakan dari lingkungan pertemanan,” jelas Psikiater Nova Riyanti Yusuf, seperti diberitakan Kompas, Selasa (10/9).
Menurutnya, dominan remaja bunuh diri disebabkan depresi seperti kehilangan minat dan semangat, gangguan tidur, hilangnya nafsu makan hingga prestasi menurun.
Menilik peristiwa tersebut, Bimbingan Konseling Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 6 Bandung, Soni Aida mengatakan, sekolah gencar melakukan pencegahan dengan berbagai cara.
“Ini hampir terjadi di sekolah kami. Tetapi, dengan sigap kami melakukan berbagai tindakan. Dimulai dengan memanggil sang anak dan memancingnya untuk menceritakan masalahnya. Setelah itu, kami meminta pertolongan psikiater,” ujar Soni Aida saat diwawancarai, Rabu (11/9).
Sementara Staf Humas SMKN 12 Bandung, Dini Juwita mengungkapkan, sekolah memberikan ruang bagi siswa untuk menceritakan masalahnya kepada guru bimbingan konseling (BK).
“Langkah ini memberi kesempatan kepada sang anak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Terkadang, kami menjadi guru sekaligus teman buat anak-anak agar nyaman bercerita,” pungkasnya singkat. Mal