BANDUNG, PelitaJabar – Posisi Kota Bandung memiliki tantangan tersendiri dibandingkan daerah lain. Terutama dari sisi kapasitas dan ekspektasi penyelenggaraan Pekan Paralympik Daerah (Peparda) VII 2026.
Demikian dikatakan Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandung, H. Iman Lestariyono saat “audiensi” bersama National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Bandung di ruang rapat DPRD Kota Bandung, Jalan Sukabumi Kota Bandung, Rabu 8 April 2026).

“Kondisi anggaran saat ini tengah mengalami efisiensi yang cukup signifikan. Kendati demikian, hal itu tidak boleh menjadi hambatan dalam menyukseskan ajang olahraga disabilitas tingkat Jawa Barat ini. Oleh karena itu dari sisi pembiayaan kegiatan tidak bisa hanya bergantung pada dana hibah APBD semata,” kata Iman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia mendorong agar pemerintah membuka peluang pendanaan alternatif melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Makanya saya dorong APBD Kota Bandung itu bukan hanya satu sumber untuk kegiatan ini. Bisa pola sponsorship, kemitraan. Kan ada CSR,” sarannya.
Politisi partai PKS ini juga menyinggung pentingnya pemetaan potensi atlet secara lebih luas.
Dari 17 cabang olahraga yang dipertandingkan, baru 12 cabang yang menjadi unggulan NPCI Kota Bandung. Sedangkan , lima cabang lainnya belum tersiapkan maksimal.
“Dari 17 cabang olahraga itu, tadi saya dengar, — mereka unggul di 12 Cabor. Lima Cabor lainnya belum maksinal. Padahal mungkin saja ada warga Kota Bandung yang punya potensi,” ucap Iman.
Dia mengakui adanya perbedaan kapasitas anggaran dengan daerah lain seperti Bekasi dan Kabupaten Bogor. Namun ia memastikan Bandung tetap memprioritaskan keseimbangan antara event dan kebutuhan dasar masyarakat.
Senada, Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung, Hendy Maulana Yusup, menyebutkan, — Kota Bandung resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Peparda 2026. Penunjukan tersebut terjadi setelah Kabupaten Indramayu mengundurkan diri.
“Alhamdulillah, Kota Bandung setelah mundurnya Kabupaten Indramayu selaku tuan rumah Peparda 2026, akhirnya ditunjuk menjadi tuan rumah,” kata Hendy.
Penunjukan ini membawa konsekuensi besar, terutama kesiapan anggaran.
“Ini jelas berimbas kepada konsekuensi dari anggaran yang harus kita persiapkan,” bebernya.
Dikatakan, perubahan anggaran akan difokuskan untuk mengakomodasi kebutuhan penyelenggaraan. Mengingat Kota Bandung kini memegang peran penting sebagai tuan rumah.
“Kalau Kota Bandung menjadi tuan rumah, tentu membutuhkan kesiapan yang matang. Termasuk sisi pembiayaan kegiatan,” ujarnya.
Sementara Ketua NPCI Kota Bandung, Yadi Sofyan tetap optimistis meski dihadapkan pada sejumlah keterbatasan.
“Tetap kita bersiapkan segala sesuatunya walaupun ada kekurangan,” tegas Yadi.
Menurutnya, kekurangan bukan menjadi penghalang. Melainkan tantangan untuk menggali potensi yang dimiliki Kota Bandung. Upaya optimalisasi sumber daya dinilai menjadi kunci keberhasilan.
“Tapi kan di situ juga nanti kalau kita gali potensi-potensi kita, pasti bisa kita maksimalkan,” tambah atlet Nasional catur netra ini.
Fokus utama NPCI Kota Bandung adalah memastikan kesuksesan pelaksanaan sekaligus meraih prestasi juara umum dalam ajang Peparda 2026.
“Kedua target tersebut harus berjalan beriringan. Agar kita nanti, terutama NPCI Kota Bandung itu fokus di pelaksanaan sukses dan sukses juga di prestasi,” kata Yadi semangat.
Soal kekuarangan anggaran?
“Ya masalah anggaran, saya percaya dewan juga kelihatannya sangat mendukung program kita. Saat audensi, respon komisi IV sangat sangat bagus sekali,” pungkasnya. Joel








