SERING kita mendengar dan melihat bahkan tidak ada yang menyangka, karir seseorang begitu prestsius dan mentereng.
Namun setelah mengetahui perjalanan hidupnya, barulah kita sadar, apa yang dicapai tidaklah mudah. Melalui proses panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan tekad yang kuat ingin mengubah nasib, hingga sang Khalik pun mengabulkan semua doa-doanya.
Namanya Kosasih. Lahir 2 April 1971, putra pasangan Ust. H. Jufran Efendi (almarhum) dan Hj. Siti Khadijah (almarhumah), tak terbersit sedikitpun akan menjadi seorang tentara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran Kosasih, sebagai Pangdam III/Siliwangi tidak hanya dimaknai sebagai pergantian kepemimpinan struktural semata, melainkan figur pemimpin militer yang membawa nilai spiritual dan kearifan lokal dan moral di tengah dinamika sosial masyarakat di Tanah Siliwangi.
Sosoknya merepresentasikan apa yang kerap disebut sebagai “Jenderal Santri” seorang perwira tinggi yang memadukan ketegasan militer dengan nilai keislaman dan kesantunan budaya.
Latar belakang religius yang melekat pada diri Kosasih tidak terlepas dari lingkungan asalnya di Pandeglang, Banten, wilayah yang dikenal kuat dengan tradisi pesantren, ulama, dan kehidupan keagamaan yang kental. Nilai-nilai santri seperti kesederhanaan, keikhlasan, kedisiplinan, dan penghormatan kepada guru serta orang tua.
Menjadi tentara tidak sengaja. Karena kedua orangtuanya menginginkan dirinya mengikuti jejak saudara lainnya, masuk IAIN.
“Saat kecil saya hidup dilingkungan santri, karena itu mungkin bapak ingin saya jadi ustadz. Saya juga pernah jadi kuli di toko material dua saudara. Lima tahun lalu toko material itu sudah jadi rumah makan, lokasinya di slipi,” ungkap Pangdam III/Slw Mayjen TNI Kosasih S.E., M.M, saat silaturrahim bersama awak media di Makodam III/Slw, Jumat 24 April 2026.
Jenderal bintang dua ini menceritakan, nama Kosasih sendiri terinspirasi dari seorang tentara berwibawa, friendly, lincah, bersahaja, menjadi panutan untuk banyak orang, merakyat dan mudah bergaul tanpa ada sekat.
Beliau adalah R.A. Kosasih yang tak lain adalah Panglima Kodam Siliwangi pada masanya (Pangdam VII periode 1958-1960).
“Karena nama adalah doa, maka diberikanlah saya nama itu, ayah saya hebat, sampai mengenal sosok tersebut. Kan dulu belum ada internet, di kampung saya listrik belum ada, tv juga masih jarang. Tapi nama RA Kosasih bisa terkenal hingga ke kampung saya di ujung kulon sana,” kata suami Asri Wiraningsih sambil tertawa lepas.
Lalu, sebelum kelas 6 SD, Kosasih bersama saudara lainnya, hijrah ke Jakarta.
Setelah menetap di ibukota, Kosasih lebih memilih tinggal di masjid menjadi marbot (petugas masjid) dibanding dirumahnya sendiri.
“Bisa dibayangkan, kami semua enam bersaudara, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Sementara kamar cuma dua, lebih baik saya tinggal di masjid jadi marbot. Sekaligus ya berbekal ilmu nyantri di kampung, saya disuruh bantu ngajar ngaji adik-adik di kampung situ,” tambahnya.
Menjadi marbot hingga SMA, Kosasih juga menjadi kuli di salah satu toko material.
“Kebetulan didekat masjid ada toko material Dua Saudara punya Haji Arhali, kebetulan juga ketua pengurus masjid disitu. Saya diminta bantu angkat bata, pasir dan lain lain. Sambil jadi kuli, jual TTS dan es Mambo,” papar ayah dua anak Alfia Tasya Karisa dan Adelia Naila
Kenapa menjadi tentara?
“Ketika kelas 3 SMA, saat makan mie ayam, datang tentara seorang marinir, habis makan dia keluar, lalu ditagih lah sama tukang mie om belum bayar, bukannya bayar malah ngegebrak meja pakai sangkur. Nah disitu saya istiqfar sembari berdoa, semoga saya bisa jadi tentara memperbaiki hal seperti itu.”
Lalu ada pendaftaran tentara, AKABRI. Semua persyaratan masuk tentara harus tandatangan orangtua sebagai wali.
“Semua tandatangan orangtua saya, demi Allah nih palsukan semua, karena kan ayah saya maunya saya masuk IAIN. Pokoknya perayaratan masuk tentara sudah beres,” ucap alumni SESKO TNI 2018 ini disambut gelak tawa awak media.
Lalu ikut tes, dan dinyatakan lulus, dan mau ga mau harus ke Magelang.
“Lalu saya menghadap orangtua. Mbah ibu saya ijin mau ke Magelang, loh mau ngapain, kaget kan. Lalu saya ceritalah saya daftar AKABRI.”
“Nah disitulah, ada bekal celengan ayam jago punya kakak saya Rp 19.500, saya beli sepatu 3000 perak, karena saya ga punya sepatu buat lari. Bawa ke Magelang sampai sepatu itu mangap, namanya juga sepatu loakan. Setelah dinyatakan lulus, sepatu itu saya kuburkan di bawah tiang jemuran di barak E sampai nangis saya. Mungkin kalau dibikin film kayaknya bagus ya,” kenang alumni AKMIL 1993.
Usai bercerita panjang lebar mengenai perjalanan hidupnya, kegiatan diakhiri dengan berpose bersama para jurnalis.
Pendidikan Umum dan Militer
SD Tamat Tahun 1984,
SLTP Tamat Tahun1987,
SLTA Tahun 1990,
Sarjana (S1) Tamat Tahun 1999,
Magister (S2) Tahun 2025.
MILITER
AKMIL dan tamat Tahun 1993,
SESSARCAB INFANTERI Tahun 1994,
SUSLAPA INFANTERI Tahun 2000,
SESKOAD Tahun 2007,
SESKO TNI Tahun 2018,
LEMHANNAS RI Tahun 2021.
Tidak berhenti pada Pendidikan Pengembangan Umum saja tetapi juga melewati kursus specialis kemiliteran yakni :
DIK KOMANDO Tahun 1995,
SUSSPES BAK DUK (Sniper) Tahun 1995,
Counter Terrorisem Intel Course 1996,
Kursus Bahasa Perancis Tahun 1999,
SUSPA MINPERS PRA Tahun 2000,
SUS Bahasa Inggris Crash Program 2005
SUS DANYON Tahun 2009,
SUS Auditor Pertama Tahun 2013. Miftahul Akmal








