Minta Kemendikbud Tegas Kendalikan HET Buku

- Penulis

Rabu, 1 Agustus 2018 - 14:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDUNG, PelitaJabar – Berdasarkan data dilapangan, baik dari toko buku, supllier dan karyawan percetakan yang menjual buku langsung ke sekolah, pembelian buku kurtilas belum merata dalam pelaksanaanya untuk melengkapi proses belajar mengajar di sekolah pada tahun ajaran 2018/2019.

Hal ini disebabkan karena kurang lancarnya penggandaan dan pencetakan dengan berbagai macam alasan, sehingga sekolah melengkapi pengadaan buku pelajaran dari penerbit swasta dengan harga yang jauh lebih mahal melalui dana BOS.

Pengamat pendidikan yang juga pengurus PWI Jabar Muhammad Syafrin Zaini mengungkapkan, adanya ketentuan di Juknis BOS boleh membeli Bukpel  BSE sebagai alternatif, cukup membingungkan. Karena stock lama eks buku bse sejak 2010 sudah habis terjual. Selain itu, juga jarang mencetak lagi karena harganya hampir sama dengan HET kurtilas.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Banyak sekolah meminta uang dari penjual buku ke sekolah tanpa memperhatikan kualitas buku. Ini kan jelas menyimpang dari UU perbukuan pasal 64 ayat 1 yang melarang penerbit tidak boleh menjual buku langsung kesekolah. Dampaknya korupsi semakin masif terutama di akar rumput atau sekolah pelaksana,” ungkap Syafrin saat ditemui di Bandung  Rabu (1/8).

Dia melanjutkan, dari pelaksanaan pembelian buku melalui Online Store, beberapa perusahaan yang pernah dilegitimasi oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) dan Kemendikbud melalui harga sesuai e-katalog sepertinya masih lebih baik walau ada sedikit kekurangan dibandingkan dengan penjualan buku Kurtilas non online.

“Sulit mendapatkan data dari sekolah pembeli penerima dan pembayar secara tepat pesan, tepat sasaran, tepat kirim dan tepat bayar sesuai dana yang diberikan langsung kesekolah melalui dana BOS yang dilakukan secara Non Cash Less oleh pihak sekolah. Nah ini pertanyaannya kenapa bisa terjadi,” tambah Syafrin lagi.

Dirinya juga menyinggung kenaikan harga kertas pada 2018 ini yang mencapai 30 persen dari 2017 lalu. Selain itu, kurang merata pengadaan kertas khusus yang ditetapkan Kemendikbud.

“Ini tentunya menyulitkan percetakan dan suppliyer sehingga berdampak pada pengadaan buku Kurtilas tahun ajaran 2018/2019, kurang dapat terlaksana tepat waktusesuai kebuituhan sekolah. Tidak aneh, banyak percetakan menggunakan kertas seadanya dengan pemikiran asal ada buku walau kertasnya down speck,” tegas Syafrin seraya mengingatkan pengusaha jangan hanya mencetak buku untuk kebutuhan zona 4 dan 5 karena harganya dianggap lebih menguntungkan sehingga, banyak buku kurtilas kebutuhan zona 1,2 dan 3 agak terlambar suplay bukunya.

Pihaknya menghimbau kepada Menteri Pendidikan agar harga eceran tertinggi (HET) tetap dikendalikan oleh Kemendikbud dan LKPP. Disamping itu, pelaksanaan pengadaan dan pengiriman, bisa melalui lelang resmi ditingkat pusat atau daerah agar lebih terjamin pengontrolan oleh Kemendikbud.

Dirinya juga meminta perusahaan peserta lelang harus sudah terlegitimasi oleh pihak LKPP dan Kemendikbud, harus ada cek fisik.

“Saya kira Kemendikbud bisa memberlakukan standar lulusan buku dan harga per halaman secara merata untuk buku penerbit swasta dengan HET perbukuan atau e-katalog. Ini penting supaya masyarakat tidak menjadi korban dari penerbit swasta yang menjual buku seenaknya karena kompromi dengan swasta,” pungkasnya. Mal

Komentari

Berita Terkait

Sejak Dibuka, KA Sangkuriang Layani 6000 Lebih Pelanggan
Anggaran Belum Cair, Bagaimana Nasib Atlet & Porprov 2026
Dari Seminar Bersinergi Membangun Negeri, Mayjen TNI Kosasih Sebut Kolaborasi Harus Berdampak Nyata
Bangun Negeri, Kodam III/Slw dan UNPAK Lakukan Kerjasama Strategis
Hindari Kecelakaan, KAI Tutup Puluhan Pintu Tak Terjaga
PWI Pusat Bentuk Tim Website & Podcast
Pesan KDM untuk Pasutri Disabilitas Tuna Rungu
Percepat Penanganan PPA dan TPPO, DP3AKB Jabar Gandeng Kemenham

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:57 WIB

Sejak Dibuka, KA Sangkuriang Layani 6000 Lebih Pelanggan

Kamis, 7 Mei 2026 - 13:55 WIB

Anggaran Belum Cair, Bagaimana Nasib Atlet & Porprov 2026

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:00 WIB

Dari Seminar Bersinergi Membangun Negeri, Mayjen TNI Kosasih Sebut Kolaborasi Harus Berdampak Nyata

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:37 WIB

Bangun Negeri, Kodam III/Slw dan UNPAK Lakukan Kerjasama Strategis

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:06 WIB

Hindari Kecelakaan, KAI Tutup Puluhan Pintu Tak Terjaga

Berita Terbaru

Selama seminggu sejak beroperasi, tercatat 6000 lebih pelanggan menggunakan layanan KA Sangkuriang. PJ/Dok

FEATURED

Sejak Dibuka, KA Sangkuriang Layani 6000 Lebih Pelanggan

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:57 WIB

Belum cairnya anggaran Porprov 2026, membuat beberapa atlet di Jabar hengkang. PJ/Dok

FEATURED

Anggaran Belum Cair, Bagaimana Nasib Atlet & Porprov 2026

Kamis, 7 Mei 2026 - 13:55 WIB

Petugas KAI Daop 2 Bandung menutup salah satu perlintasan sebidang ilegal. PJ/Dok

FEATURED

Hindari Kecelakaan, KAI Tutup Puluhan Pintu Tak Terjaga

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:06 WIB