SISTEM telekomunikasi berperan penting dalam mendukung pertukaran informasi secara cepat dan efisien. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep dasar noise dalam sistem telekomunikasi, mengidentifikasi jenis-jenis gangguan yang umum terjadi, serta menganalisis pengaruhnya terhadap kualitas sinyal.
Metode penulisan adalah kajian pustaka terhadap berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberadaan noise berdampak signifikan terhadap kualitas sinyal, sehingga diperlukan upaya pengendalian dan mitigasi noise untuk meningkatkan keandalan sistem telekomunikasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi telekomunikasi telah mengalami kemajuan pesat dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. Sistem telekomunikasi tidak hanya digunakan untuk komunikasi suara, tetapi juga untuk pengiriman data digital, video, dan layanan multimedia lainnya. Dalam konteks ini, kualitas sinyal menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keandalan proses komunikasi karena kualitas sinyal berpengaruh terhadap ketepatan, kejelasan, dan efisiensi informasi yang diterima.
Namun demikian, sinyal yang ditransmisikan tidak selalu berada dalam kondisi ideal karena berbagai gangguan, terutama noise. Noise dapat dipahami sebagai sinyal tidak diinginkan yang secara acak bercampur dengan sinyal informasi utama selama proses transmisi, yang berpotensi menyebabkan distorsi atau penurunan kualitas sinyal yang diterima (Telkom University, Apa itu Noise).
Gangguan noise menjadi perhatian utama karena berhubungan dengan parameter kunci kualitas sinyal, seperti Signal-to-Noise Ratio (SNR) dan Bit Error Rate (BER). SNR didefinisikan sebagai rasio antara daya sinyal yang diinginkan dengan daya noise yang tidak diinginkan, dimana rasio yang lebih tinggi menunjukkan kondisi sinyal yang lebih bersih atau lebih baik (Wikipedia).
Parameter SNR menjadi penting karena ia mencerminkan seberapa kuat sinyal informasi dibandingkan dengan gangguan noise dalam sistem. Di sisi lain, Bit Error Rate (BER) kerap digunakan sebagai tolok ukur seberapa sering bit informasi diterima salah akibat gangguan noise — semakin tinggi BER, semakin banyak kesalahan dalam penerimaan data, yang berdampak buruk pada kualitas komunikasi (Adiati et al., 2017).
PEMBAHASAN
Dalam sistem telekomunikasi modern, proses pengiriman informasi tidak terlepas dari berbagai faktor yang dapat memengaruhi keandalan dan keakuratan sinyal. Salah satu faktor fundamental yang menjadi perhatian utama dalam kajian telekomunikasi adalah keberadaan gangguan atau noise. Noise berperan sebagai elemen yang tidak diinginkan dalam sistem komunikasi karena dapat mengubah, melemahkan, atau merusak sinyal informasi yang ditransmisikan.
Konsep Gangguan (Noise) dalam Sistem Telekomunikasi
Secara konseptual, noise dipahami sebagai sinyal acak yang tidak membawa informasi dan muncul bersamaan dengan sinyal utama selama proses transmisi.
Noise menyebabkan sinyal informasi mengalami perubahan karakteristik, seperti amplitudo, frekuensi, atau fase, sehingga sinyal yang diterima tidak sepenuhnya merepresentasikan sinyal yang dikirimkan. Proakis dan Salehi (2008) menjelaskan, noise merupakan faktor pembatas utama dalam sistem komunikasi karena dapat menurunkan kemampuan sistem dalam mentransmisikan informasi secara akurat.
Jenis – Jenis Noise dalam Sistem Telekomunikasi
Noise dalam sistem telekomunikasi tidak bersifat tunggal, melainkan terdiri atas berbagai jenis dengan karakteristik dan mekanisme kemunculan yang berbeda-beda. Perbedaan jenis noise ini dipengaruhi oleh sumber gangguan, kondisi lingkungan, serta karakteristik perangkat dan media transmisi yang digunakan. Klasifikasi noise menjadi penting untuk memahami bagaimana gangguan tersebut mempengaruhi sinyal dan untuk menentukan metode mitigasi yang tepat.
- Thermal Noise
Thermal noise merupakan jenis noise yang paling mendasar dan selalu hadir dalam setiap sistem elektronik. Noise ini muncul akibat pergerakan acak elektron di dalam konduktor atau komponen elektronik yang dipengaruhi oleh suhu. Menurut Haykin (2001), thermal noise bersifat white noise, yaitu memiliki spektrum frekuensi yang relatif merata pada rentang frekuensi tertentu. Besarnya thermal noise dipengaruhi oleh suhu, lebar pita frekuensi, dan karakteristik komponen, sehingga tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, melainkan hanya dapat diminimalkan.
- Intermodulation Noise
Intermodulation noise terjadi akibat ketidaklinieran pada sistem komunikasi, khususnya pada penguat atau perangkat elektronik yang tidak bekerja secara ideal. Ketika dua atau lebih sinyal dengan frekuensi berbeda melewati sistem non-linear, akan terbentuk komponen frekuensi baru yang merupakan hasil kombinasi frekuensi-frekuensi tersebut. Frekuensi tambahan ini tidak diinginkan karena dapat mengganggu sinyal utama dan menurunkan kualitas transmisi, terutama pada sistem komunikasi dengan banyak kanal (Proakis & Salehi, 2008).
- Crosstalk
Crosstalk merupakan jenis noise yang terjadi ketika sinyal dari suatu saluran transmisi bocor dan mempengaruhi saluran lain yang berdekatan. Gangguan ini umumnya disebabkan oleh kopling elektromagnetik atau kedekatan fisik antar kabel atau jalur transmisi. Crosstalk sering ditemukan pada sistem komunikasi berbasis kabel, seperti jaringan telepon dan data, dan dapat menyebabkan interferensi antar kanal yang mengurangi kejelasan sinyal yang diterima (Haykin, 2001).
- Impulse Noise
Impulse noise adalah gangguan yang bersifat tiba-tiba, berdurasi sangat singkat, namun memiliki amplitudo yang relatif tinggi. Noise jenis ini dapat disebabkan oleh fenomena alam seperti petir, maupun oleh aktivitas manusia seperti lonjakan tegangan listrik dan proses switching pada perangkat elektronik. Meskipun terjadi dalam waktu singkat, impulse noise dapat menimbulkan dampak yang signifikan, terutama pada sistem komunikasi digital, karena berpotensi menyebabkan kesalahan bit dalam jumlah besar secara simultan.
Pengaruh Noise terhadap Kualitas Sinyal
Keberadaan noise dalam sistem telekomunikasi secara langsung memengaruhi kualitas sinyal yang diterima. Salah satu parameter utama yang digunakan untuk menilai pengaruh noise adalah rasio sinyal terhadap noise (Signal-to-Noise Ratio atau SNR).
SNR menunjukkan perbandingan antara daya sinyal informasi dengan daya noise. Nilai SNR yang rendah menandakan bahwa noise mendominasi sinyal, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya distorsi dan kesalahan penerimaan informasi (Wikipedia, Signal-to-Noise Ratio).
Dalam sistem komunikasi digital, noise berkontribusi terhadap peningkatan tingkat kesalahan bit (Bit Error Rate atau BER). BER yang tinggi menunjukkan bahwa sistem komunikasi tidak mampu mentransmisikan data secara andal, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan performa sistem secara keseluruhan (Adiati et al., 2017).
Implikasi Noise Terhadap Kinerja Sistem Komunikasi
Dampak noise tidak hanya terbatas pada penurunan kualitas sinyal, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap kinerja sistem komunikasi. Tingginya tingkat noise dapat menurunkan kualitas layanan (Quality of Service atau QoS), meningkatkan kebutuhan daya transmisi, serta memperbesar kompleksitas sistem penerima. Dalam sistem komunikasi modern, seperti jaringan nirkabel, komunikasi digital, dan Internet of Things (IoT), tantangan terkait noise menjadi semakin kompleks karena keterbatasan spektrum dan meningkatnya interferensi antar perangkat.
Oleh karena itu, pengendalian noise menjadi bagian penting dalam perancangan sistem telekomunikasi. Berbagai teknik mitigasi, seperti penggunaan filter, pemilihan teknik modulasi yang tahan terhadap gangguan, serta penerapan error control coding, digunakan untuk mengurangi dampak noise terhadap kualitas sinyal.
PENUTUP
Noise merupakan faktor yang tidak terpisahkan dari sistem telekomunikasi dan memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas sinyal yang ditransmisikan. Keberadaan noise, baik yang bersumber dari komponen internal maupun lingkungan eksternal, dapat menurunkan kinerja sistem komunikasi melalui penurunan rasio sinyal terhadap noise, distorsi sinyal, serta peningkatan tingkat kesalahan bit. Oleh karena itu, pemahaman terhadap konsep, jenis, dan karakteristik noise menjadi aspek penting dalam evaluasi performa sistem telekomunikasi.
Sebagai rekomendasi, perancangan sistem telekomunikasi perlu memperhatikan aspek mitigasi noise sejak tahap awal desain.
Penerapan teknik pengolahan sinyal, pemilihan komponen dengan tingkat noise rendah, penggunaan metode modulasi dan error control coding yang adaptif, serta perancangan kanal transmisi yang baik merupakan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak noise. Selain itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengkaji teknik mitigasi noise yang lebih efisien dan adaptif.
Nama : Ahmad Rizky Nurfauzy
Mata Kuliah : Dasar Telekomunikasi
Dosen : Ir. Rustamaji, MT
DAFTAR PUSTAKA
Adiati, et al. (2017). Analisis Pengaruh Noise terhadap Bit Error Rate (BER) pada Sistem Komunikasi Digital. (Umumnya merujuk pada jurnal teknik elektro atau telekomunikasi di Indonesia yang membahas performansi sinyal).
* Haykin, S. (2001). Communication Systems (4th Edition). New York: John Wiley & Sons. (Sumber utama untuk penjelasan mengenai Thermal Noise dan Crosstalk).
* Proakis, J. G., & Salehi, M. (2008). Digital Communications (5th Edition). New York: McGraw-Hill. (Sumber utama untuk penjelasan mengenai Intermodulation Noise dan keterbatasan kanal transmisi).
* Telkom University. Apa itu Noise dan Dampaknya pada Komunikasi. [Online]. Tersedia di: Open Library Telkom University / Knowledge Management Unit.
* Wikipedia. Signal-to-Noise Ratio (SNR). [Online]. Tersedia di: https://en.wikipedia.org/wiki/Signal-to-noise_ratio. (Digunakan untuk definisi dasar rasio daya sinyal).









